DILARANG MEROKOK RUANG BLOG INI BER AC

Rimbi


Oleh: Gunawan Maryanto

LANG, PULANG. LENDHUT MATI. DIBAKAR ORANG. (PAPA)
Pesan singkat itu terlambat sampai padaku. Menyelinap di antara setumpuk pesan pekerjaan dan omong kosong. Entah dari mana Papa mendapatkan nomorku. Tak ada waktu untuk mempertanyakannya.

Oke. Aku pulang.
Hanya ada dua hal di kepalaku selama perjalanan. Papa dan Lendhut. Tapi dua hal itu sudah terlalu banyak untuk jarak tempuh yang rasanya sangat pendek ini. Mereka datang bergantian dan tak jarang saling tabrak seperti hendak merebutku dari gerbong kereta. Sementara Dixie Chicks di telingaku terus mengulang lagu tentang rumah yang jauh dan padang-padang rumput. Mereka semua pada akhirnya membuatku tak berada di mana-mana.

Aku meninggalkan rumah ketika ia sudah tak mendapat tempat lagi dalam kepalaku, demikian pula sebaliknya. Aku pergi beberapa hari sebelum ujian akhir di SMA-ku berlangsung. Beberapa hari sebelum pernikahan Papa dirayakan. Sepuluh tahun yang lalu.

Malam itu dengan sengaja aku merokok di depannya dengan harapan ia segera menamparku dan aku tak butuh lagi alasan buat pergi. Tapi ia cuma duduk diam di seberang meja. Ia bahkan tak menatapku. Mungkin aku hanya segulung asap tembakau.

Asap itu dengan cepat melesat dibawa angin ke tanah lapang. Mengental dan terpantul-pantul di rumputan yang tak rata dan sepasang kaki cokelat tua tanpa sepatu, entah datang dari mana, segera menyambutnya. Sepasang kaki itu dengan lincah memainkannya. Menggiring dan menjadikannya bola sepenuhnya.

Lendhut! Aku berteriak. Aku seperti mengenalnya. Sepasang kaki itu berhenti sebentar dan kemudian berlari mendekatiku. Hingga sepasang kaki itu berdiri tegak tepat di mukaku. Aku tahu itu Lendhut. Tapi bagaimana aku bisa memastikannya jika hanya sepasang kaki saja yang sanggup kulihat. Aku mendongak. Hanya langit.

Tak ada sms. Aku pesan kopi panas. Cirebon sudah lewat. Aku menggosok-gosok mataku yang pedih. Siapa yang membakarmu, Ndhut? Bagaimana mereka melakukannya? Aku berusaha mengingat seluruh hal tentang dirimu. Tapi hanya sanggup mengingat sepasang kakimu. Yang menggiring bola di tanah lapang. Dan yang mengayuh sepeda memboncengkanku pulang-pergi sekolah. Bagian dirimu yang lain, entah siapa yang telah merebutnya dariku? Atau aku memang telah meninggalkannya malam itu?

Kata Papa, Lendhut masih terhitung saudaraku. Bapak Lendhut adalah anak emas Yang Kung meski ia bukan anak kandungnya. Separuh tanah Yang Kung seluas seperempat kampung diberikan begitu saja pada Pakde Gito. Tapi tiga tahun kemudian tanah itu telah sama sekali bukan milik salah satu dari kami. Digadaikan Pakde di meja judi dan tak pernah tertebus lagi. Lalu mereka sekeluarga pindah sampai beberapa tahun kemudian Lendhut datang dan tidur di kamarku. Aku sudah lima tahun waktu itu. Dan ia tak pernah pergi-pergi lagi sampai aku pergi malam itu.

Jam enam pagi aku sampai di Jogja. Aku buru-buru masuk taksi dan taksi sudah serupa becak di kota ini -tawar-menawar harga, aku tak peduli. Aku pingin segera sampai rumah dan bertemu Lendhut.

Aku hampir-hampir tak mengenali lagi rumahku. Tiga buah tenda dipasang memanjang di jalan depan rumah. Kursi-kursi lipat dan orang-orang yang mesti kukenali lagi meski sebagian dari mereka langsung mengenalku begitu aku mendekat.

"Kapan datang, Lang?"
"Barusan. Mana Lendhut?"
"Masih di rumah sakit. Sebentar lagi paling sudah dibawa kemari. Aku juga belum lihat."

"Remuk, Lang," tambah Parlin. Atau Parmin. Aku tak yakin. "Aku tak bisa percaya bahwa tubuh hangus itu Lendhut."
"Persis lendhut tenan (lumpur beneran)!" celetuk seseorang di pojokan. Semua tertawa.

Jadi aku tak mendapat apa-apa. Selain kelakar dan Lendhut dibakar orang hingga mati di terminal. Sebagian bilang Lendhut maling. Sebagian bilang Lendhut berteman dengan maling. Tak penting. Yang penting Lendhut telah mati dengan cara maling.

Aku masuk ke dalam mencari Papa.
"Papamu ke rumah sakit," kata seseorang tanpa kutanya. Aku menuju bekas kamarku. Tak ada yang berubah. Seolah aku baru saja meninggalkannya tadi malam. Kuletakkan tas dan bergegas ke kamar mandi. Kamar mandi yang mengingatkanku pada kematian yang lain.

Kamar mandi menyembunyikanku dari kabar kematian. Memelukku dengan dingin seperti tengah berkeras menenangkanku. Dan seluruh peristiwa di hari itu, tepat di ulang tahunku yang keduabelas, seperti berlangsung dalam air. Lambat, tenang dan dingin. Aku tak sedikit pun ingin menangis.

Aku bangun kesiangan dan menemukan rumah sudah kosong. Selembar kertas di meja belajar: Papa dan Mama ke rumah sakit. Kalau lapar datang saja ke rumah Yang Ti. Papa.

Aku segera ke rumah Yang Ti, bukan karena lapar, tapi pingin tahu apa yang tengah terjadi sepanjang aku tidur. Tadi malam aku tak sempat ketemu Mama. Ketika Papa menjemputku dari sekolah, setelah seharian aku dan teman-teman sekelasku pergi ke Demak, Kudus dan Jepara, ia sudah tidur dalam kamarnya.

Yang Ti segera menyiapkan sarapan begitu tahu aku datang.
"Bapakmu ngantar Ibumu ke rumah sakit. Kau akan segera punya adik."

Aku jadi lapar dan segera ke meja makan. Brongkos dan telur rebus hangat. Di tengah-tengah aku makan Papa datang membawa tas pakaian Mama. Ia langsung mengajak Yang Ti ke belakang.

"Adik gimana, Pa?"
Papa tersenyum. Sedikit aneh. "Kamu maem yang banyak, ya," katanya. Aku sempat melihat ada bercak darah di tas itu. Aku melanjutkan makan tapi mulutku tak merasakan apa-apa. Aku mengambil nasi lagi.

Selesai aku makan rumah Yang Ti sudah penuh orang. Tetangga-tetanggaku. Aku tak tahu apa yang tengah mereka kerjakan. Tapi menurutku mereka tengah mempersiapkan sebuah perayaan. Papa mengecup keningku dan pergi lagi. Ke rumah sakit njemput Mama dan adik, katanya. Aku sedikit tak percaya.

Untung tak pernah ada yang rahasia bagi para tetangga. Dari mereka aku dengar adikku meninggal begitu dilahirkan. Dan Mama masih dirawat di rumah sakit. Aku pulang ke rumah sendirian. Mengunci diri di kamar mandi.

Sirene ambulan dan suara orang-orang. Suara kursi lipat dilipat dan disingkirkan. Suara orang mengaji. Aku masih bertahan di kamar mandi. Telanjang bulat sambil mengingat-ingat wajah Lendhut. Tapi wajah itu sudah terbakar jauh sebelum orang-orang di terminal itu membakarnya. Sekali lagi hanya sepasang kaki yang datang dan mengajakku berlari di tanah lapang.

"Lang. Lang!" suara Papa terdengar lebih tua dari yang seharusnya. Aku mengambil sebungkus rokok dari saku celana yang tergantung di pintu kamar mandi. Menyalakannya sebatang dan mengembalikan sisanya ke tempat semula.

"Sebentar, Pa. Aku belum bersiap menemui kalian."
Kamar mandi berkabut. Aku seperti berendam di Sipoholon. Sebuah tempat terjauh yang sanggup aku bayangkan sebagai pelarian.

"Lang, ikut sholat jenazah, nggak?" suara Papa memanggilku kembali.
Aku sholat bersama Lendhut. Di depan kami, tubuh Mama terbaring tenang diselimuti rapat-rapat kain batik Yang Ti. Ini adalah sholat jenazahku yang pertama. Tapi apa yang diajarkan Pak Budi, guru agama SD-ku, sama sekali tak berguna. Aku lupa seluruh bacaan dan tata caranya. Jadi aku hanya berdiri diam dan bersedekap sambil terus mengulang Al Fatihah. Kulirik Lendhut. Ia juga tak jauh berbeda.

Kami selesai ketika Papa berbisik di telingaku, "Lang, sholatnya sudah. Mamamu sudah mau berangkat."
"Lang, cepat. Lendhut sebentar lagi diberangkatkan." Aku memaksa diriku keluar. Ruangan tengah masih penuh pelayat. Aku menyelinap mendekati jenazah Lendhut. Papa tak ada di sana.

Lendhut terbujur di keranda, diselimuti kain hijau kusam dan huruf-huruf Arab yang tak terbaca lagi. Aku berdiri tepat di sebelah kepalanya. Berdoa setenang-tenangnya. Aku tak tahu telah berapa lama berdiri seperti ini. Juga berapa lama orang-orang itu telah bersabar menungguku selesai. Aku merasa baru saja selesai bermain bersama Lendhut. Berlarian di kebun belakang sambil memunguti rontokan melinjo di tanah dan membakarnya di tungku Yang Ti.

Seseorang menggamit tanganku dan menarikku ke belakang. Ia terus memegang tanganku. Beberapa lelaki muda segera bersiap di sisi-sisi keranda. Tanpa aba-aba mereka mengusung keranda itu keluar. Seluruhnya berlangsung dalam ketenangan yang luar biasa. Baru ketika keranda itu keluar aku menoleh pada seseorang yang masih memegang erat tanganku. Arimbi. Gusti Allah, kenapa demikian mudah aku melupakannya?

Arimbi adalah seorang raksesi, kata Mamaku. Raksasa putri. Maka ketika ada seorang gadis cilik memperkenalkan dirinya sebagai Arimbi aku langsung merasa diriku adalah Bima yang sedang dikejar-kejarnya. Bima yang seluruh tubuhnya merinding karena jijik dan takut. Tapi Lendhut sangat baik padanya. Mungkin ia adalah Kresna, si hitam, yang menjadi penghubung pertemanan kami.

Ia dan keluarganya tinggal di rumah seberang kebun belakang kami. Belum lama pindah dari kota. Ia tak punya saudara, katanya, tapi aku merasa ia punya banyak saudara. Paling tidak ia punya seorang kakak bernama Arimba. Dan ia menangis ketika pertama kali kubilang raksesi.

Tapi siang berikutnya ia sudah duduk di batu pagar melihat aku dan Lendhut bermain kelereng. Dua siang berikutnya ia sudah ikut bermain bersama kami. Lalu tanpa direncanakan kami menjadi tiga sekawan yang sepertinya tak akan terpisahkan. Bima-Arimbi-Kresna. Kebun belakang menjelma hutan Pringgandani. Semuanya harus tunduk pada perintah kami, kecuali tukang tebas melinjo. Selain membawa pisau, ia juga berani memanjat pohon melinjo. Kata Yang Ti, siapa pun yang jatuh dari pohon melinjo, serendah apa pun, ia tak akan selamat. Jadi mereka, sepasang suami istri yang selalu datang dengan sepeda dan karung plastik, adalah orang sakti, karena tak pernah jatuh dari pohon melinjo. Jadi kami hanya melihatnya dari bawah sambil mengumpulkan melinjo yang jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Hanya merekalah, melinjo-melinjo yang kebanyakan masih hijau itu, hak kami selaku penguasa di sini.

"Mbi." Ia tertunduk. Aku hampir-hampir tak mengenalnya. Tangannya gemetar seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang terus berjatuhan dari dalam tubuhnya. Sesuatu yang datang dari sebuah tempat bernama Pringgandani.

Kami, aku dan Rimbi pernah menikah suatu kali di kebun belakang. Lendhut merangkai mahkota dari daun nangka pertanda ia merestui pernikahan kami.

"Mbi, kenapa diam? Lendhut sebentar lagi berangkat. Kamu ikut mengantar, kan?"

Sesuatu terus berjatuhan dari dalam perutnya.
"Tidak, Lang. Kami tak akan ke mana-mana."
Jogjakarta, 2002/2004

Simpang Ajal


Cerpen Satmoko Budi Santoso

SELESAI sudah tugas Montenero. Karenanya, kini ia tinggal bunuh diri. Bunuh diri! Itu saja. Betapa tidak! Ia telah membunuh tiga orang itu sekaligus. Ya, tiga orang. Santa, orang yang dengan serta-merta memenggal kepala bapaknya ketika bapaknya menolak menandatangani selembar kertas yang berisi surat perjanjian untuk terikat dengan sebuah partai. Lantas Denta, yang ketika pembunuhan itu terjadi berusaha membungkam mulut bapaknya agar tidak berteriak, serta Martineau yang mengikatkan tali pada tubuh bapaknya agar bapaknya tak bergerak sedikit pun menjelang kematiannya. Karena itu, sekarang, Montenero sendiri tinggal bunuh diri!

"Selamat malam, Montenero. Sebaiknya kamu kubur dulu ketiga mayat itu baik-baik! Setelah itu, terserah!" ucap batin Montenero, meronta.

"Ya, kubur dulu! Lantas, selamat tinggal!" sisi kedirian batin Montenero yang lain menimpali.

Sesungguhnya Montenero memang tidak perlu menjumput beragam kebijaksanaan untuk sesegera mungkin mengubur mayat-mayat itu. Toh memang, tugas pembantaiannya telah usai. Dan dengan sendirinya, dendam yang bersemayam di dalam dirinya lunas terbalaskan.

"Tetapi, semestinya engkau mempunyai cukup rasa kemanusiaan untuk tidak membiarkan mayat-mayat itu menggeletak begitu saja karena kau bunuh! Kasihan tubuh mereka menggeletak! Semestinya jika dengan cepat mereka menjadi makanan belatung-belatung menggiriskan di dalam tanah. Bukan menjadi makanan empuk bagi lalat-lalat hijau!" Belati, yang telah menikam dada Santa, Denta, dan Martineau masing-masing sebanyak enam kali, yang sepertinya sangat tahu berontak batin Montenero, ikut angkat bicara.

Montenero menghela napas. Menggeliat.
"Ah, benar. Sudah semestinya. Sekarang, engkau harus bisa membebaskan pikiranmu dari angan-angan tentang balas dendam. Ingat, ketiga mayat itu telah menjadi seonggok daging yang tak berarti. Harus dikubur! Engkau harus mengubah pola pikir yang begitu konyol itu, Montenero," cecar sebilah Pedang, yang rencananya ia gunakan juga untuk membunuh, tetapi Santa, Denta, dan Martineau ternyata cukup memilih mati cuma dengan sebilah Belati.

"Oh ya. Ya. Aku ingat lagi sekarang. Engkau harus mempersiapkan banyak keberanian agar kau menjadi tidak gagu dalam bersikap. Jangan seperti ketika kau akan membunuh! Kau hunjamkan diriku ke dada ketiga mayat itu dengan gemetar. Sekarang, untuk menguburkan ketiga mayat itu, tak perlu ada denyut ragu yang berujung gemetaran badan, desah napas memburu, suara terengah-engah, dan keringat dingin yang keluar berleleran. Semua itu harus diubah. Dengan segera!"

Montenero melirik jam tangan. Kurang tiga puluhan menit kokok ayam bakalan meletup kejut. Ia menghapus keringat dingin yang perlahan-lahan tapi pasti mulai membanjiri muka dan tangannya.

"Cepat lakukan! Keberanian telah datang dengan sendirinya. Lakukan!"
Angin pagi mendesir. Jam tangan terus berdetak. Montenero pucat. Lunglai. Apa yang dikatakan oleh Belati dan Pedang itu ada benarnya. Tak ada kebijaksanaan lain menjelang pagi hari itu kecuali penguburan. Tentu saja, penguburan dengan segala kelayakannya. Ada dupa, bunga, kain pembungkus mayat, dan pastilah keberanian. Untuk yang terakhir, soal keberanian itu memang sudah sedikit dimiliki Montenero. Tetapi, untuk dupa, bunga, dan juga sesobek kain pembungkus mayat? Atau, pikiran tentang sesobek kain pembungkus mayat sungguh tak diperlukan lagi?

"Ah, begitu banyak pertimbangan kau! Ambillah cangkul! Gali tanah yang cukup untuk mengubur ketiga mayat itu sekaligus. Cepat! Tunggu apa lagi, ha?! Ayo, berikan kelayakan kematian kepada Santa, Denta, dan Martineau. Setidaknya, agar ruh mereka bisa sedikit tertawa di alam baka sana. Cepat Montenero! Waktu tinggal sebentar! Masih ada tugas-tugas lain yang harus kau panggul untuk mencipta sejarah. Sejarah, Montenero! Jangan main-main! Cepat! Ayo, dong. Cepat!!!"

Montenero diam. Terpaku. Ia sebenarnya memang tidak perlu mempertimbangkan apa-apa lagi kecuali segera mengubur ketiga mayat itu serapi mungkin, agar paginya tidak sia-sia karena dikorek-korek anjing. Lantas, selesai! Sejarah baru tergores. Bapaknya yang mati sangat mengenaskan dengan kepala terpenggal dari tubuhnya, terbalas sudah. Meskipun kematian Santa, Denta, dan Martineau tidak sempurna seperti kematian bapaknya, tetapi setidaknya mati. Itu saja. Karena hanya sisa keberanian itulah yang dimilikinya. Kebetulan memang juga mati, bukan? Tuntaslah cerita ibunya yang selalu membekas dalam ingatan dan membuatnya selalu berpikir dan bersikap semirip orang sableng.

Montenero memutuskan mengambil cangkul. Belati dan Pedang tertawa. Membuat Montenero kembali gundah, berada dalam sangkar kebingungan. Keringat berleleran lagi dari sekujur tubuhnya. Tangannya kembali gemetar. Dengan berteriak sekeras mungkin, Montenero membanting cangkul yang sudah tergenggam kencang di tangannya. Berarti keberaniannya sedikit hilang, bukan? Bahkan barangkali hilang sama sekali? Belati dan Pedang kebingungan. Keduanya pucat pasi. Motivasi apa yang mesti disuntikkan untuk membangkitkan kesadaran keberanian Montenero menjelang matahari terbit?

"Aku tak mampu lagi melakukan apa-apa. Aku telah menuntaskan tugasku. Aku telah mencipta…. Uh…. Semestinya kau tak menghimpitku dengan hal-hal kecil yang justru akan menjebakku pada rasa bersalah semacam ini!" dengan suara penuh gemetar, seolah dicekam oleh ketakutan entah apa, Montenero angkat bicara.

"O…. Kau menganggapnya hal kecil, Montenero? Harusnya aku tadi menolak untuk kau gunakan membunuh jika kau menganggap penguburan adalah sebagai hal yang kecil, remeh. O…. aku bisa saja mogok untuk membunuh bila akhirnya kau malah bimbang sikap semacam ini! Kau tahu, Montenero. Aku bisa balik mengubah keberanianmu untuk membunuh. Aku bisa tiba-tiba saja menikam dadamu sendiri di depan Santa, Denta, dan Martineau. Bangsat! Anjing, kau!!!"

Montenero terpaku. Suasana di sekitar tempat pembantaian itu merayap senyap. Montenero berulang-kali blingsatan. Montenero terus-menerus mengusap keringat yang berleleran membasahi sekujur wajah. Dan detik terus saja berdetak. Sesekali ia garuk-garuk kepala sembari berjalan mondar-mandir. Belati dan Pedang cuma memandangi saja. Bisa jadi, Belati dan Pedang memang sudah kehabisan kata-kata untuk memotivasi Montenero. Sesekali dilihatnya mayat Santa yang terbujur kaku, Denta yang terkapar melingkar bagai ular, dan Martineau yang jika diperhatikan secara jeli ternyata malah tersenyum di puncak kenyerian kematiannya.

"Bagaimana, Montenero? Bagaimana? Aku masih sanggup membikin keberanian buatmu. Belum terlambat, dan tak akan pernah terlambat. Aku masih bersabar bersama Pedang."

"Bagaimana?" Montenero mengusik tanya kepada dirinya sendiri.
"Terserah!"
"Bagaimana, Belati?"
"Terserah! Bagaimana dengan kamu, Montenero? Masih sanggup kau mendengar kata-kataku? Ok. Engkau masih bisa bekerja dengan cepat menanam ketiga mayat itu baik-baik. Ambillah cangkul itu. Keduklah tanah segera. Kuburkan mereka senyaman mungkin. Ah, bulan yang sebentar lagi bakalan angslup itu juga pasti merestui dan memandangimu dengan rasa puas. Barangkali, ia bakalan memberi ucapan selamat kepadamu. Kenapa engkau mesti terjebak pada rasa ragu? Ayo, aku senantiasa berada di belakangmu!"

Aih, ayam telah berkokok bersahutan. Meskipun ayam baru berkokok, keadaan di sekitar tempat pembantaian itu sudah cerah. Udara meruapkan kesegaran. Montenero terlambat. Ia belumlah membuat perhitungan-perhitungan untuk bergegas menyuruh Belati agar mau menikamkan diri ke dada Montenero yang kini telah disesaki gebalau bingung, ketololan, amarah, dan entah apa lagi, juga entah ditujukan buat siapa lagi. Montenero betul-betul lunglai, lenyap keberanian, tercipta goresan sejarah yang entah baru entah tidak.

Mimpi tentang Rumah


Cerpen Mustafa Ismail

KAMI punya rumah di kampung. Tidak besar, tapi cukup menyenangkan. Rumah itu semi permanen. Ayah membangun rumah itu ketika aku kecil. Ibuku yang menimbun bagian dalam rumah itu, dengan tanah merah, sebelum diberi lantai dari semen campur pasir. Tanah itu diambil dari kebun kosong persis di depan bakal rumah kami, yang juga milik salah seorang famili ibu.

Waktu itu ibu tengah hamil adikku. Tetapi ibu tidak peduli. Ia memaksa diri mengangkut tanah untuk menimbun, karena bersemangat untuk punya rumah. Itu dilakukan ibu setiap pagi sampai matahari berada di atas kepala. Aku, yang waktu itu masih kecil, sepulang sekolah ikut membantu ibu. Biasanya aku mengangkut tanah dengan pengki dan membawa tertatih-tatih. Kalau sudah siang, ibu berhenti dan pulang untuk memasak. Aku juga ikut pulang karena lepas siang aku bersiap- siap untuk mengaji di meunasah.

AYAH dan ibu membangun rumah itu boleh dikata dengan semangat. Ayah seorang pegawai kecil di sebuah sekolah dan ibu membantu menambah pendapatan keluarga dengan menanam sayur-sayuran di halaman rumah tempat kami tinggal yang memang cukup luas.

Kalau musim tanam kacang tanah atau semangka, ibu juga ikut serta bertani dengan menyewa sawah orang lain dengan sistem bagi hasil.

Jadi praktis tidak banyak uang yang ditabung ayah dan ibu, kecuali beberapa puluh gram emas yang dikumpulkan bertahun-tahun, ditambah dengan meminjam kiri-kanan, termasuk dari atasan ayah di kantor. Tak ada bantuan dari siapa pun kecuali sebuah dorongan agar kami punya rumah.

Sebelumnya kami memang punya rumah, tapi sebuah gubuk di tanah pemberian orang tua ibuku. Itu sungguh kurang menyenangkan bagi ayah. Sebab tanah itu kerap dipersoalkan oleh saudara ibu yang lain, terutama adiknya, meskipun sebetulnya mereka sudah mendapat bagian masing-masing. Tetapi begitulah orang tak puas: selalu saja lebih indah hal-hal yang belum mereka miliki. Ayah tidak mau repot-repot dengan itu.

Maka ketika ada orang menjual tanah, ayah lalu membeli tanah itu. Ibu pun gembira sekali ketika itu. Apalagi tanah untuk rumah itu letaknya di pinggir jalan kabupaten yang berdebu dan tak beraspal. Jalan selebar tiga meteran itu menghubungkan Kecamatan Trienggadeng dan Meureudu, yang berjarak sekitar tujuh atau delapan kilometer itu. Aku suka menempuhnya dengan bersepeda bersama kawan-kawan sebaya.

Di samping jalan itu, membentang rel kereta api, menjulur dari Sigli entah sampai di mana. Mungkin sampai Aceh Utara dan Aceh Timur. Mungkin pula sampai Sumatra Utara. Aku memang tidak terlalu mengusut soal itu. Apalagi aku tidak pernah naik kereta yang melintas di rel itu. Hanya pernah melihatnya ketika aku kecil. Ketika aku mulai sekolah kereta api sudah tak ada. Tidak jalan lagi. Entah mengapa. Padahal, ketika tahu ayah membeli tanah dan akan membikin rumah di Jalan Baroh -orang kampungku menyebut begitu- aku senangnya bukan main. Aku membayangkan sesekali bisa naik kereta api.

AKU pernah bertanya: mengapa ibu begitu kuat mengangkat tanah untuk menimbun rumah? Jawaban ibu membikinku haru. "Kita memang harus kuat agar bisa punya rumah. Bagaimanapun kita lebih tenang tinggal di rumah sendiri, rumah yang kita bangun dengan keringat sendiri," kata ibu.

Ibu juga tidak mengajak ayah untuk membantu menimbun bagian dalam rumah. Menurut ibu, ayah juga sama seperti ibu. Hanya beda tempat saja. "Ibu justru membantu ayahmu. Kalau ayah turut mengangkat tanah, kasihan ayahmu terlalu lelah. Ayahmu sudah bekerja pagi sampai lepas siang," ujarnya. "Mengapa tidak diupahin saja sama orang untuk menimbun?"

Pertanyaanku dijawab dengan senyum oleh ibu. "Kalau kita upahin sama orang, kita tidak pernah bisa merasakan bagaimana sulitnya membangun rumah. Padahal itu penting supaya kita tahu benar arti sebuah jerih payah sehingga bisa merawatnya dengan baik. Lagi pula, kita tidak punya uang untuk itu."

Ah ibu, sungguh aku tidak terlalu mengerti kata-kata ibu. Aku pun tidak hendak bertanya lebih lanjut. Aku cuma bisa memahami kata-kata ibu bahwa mereka -ayah dan ibu- bercita-cita punya rumah. Rumah lebih baik. Di tanah sendiri. Lalu aku pun ikut membantu ibu. "Ayo, jangan bicara saja. Bantu ibu," katanya kemudian. Aku mencangkul bongkahan-bongkahan tanah dan memasukkan ke kain tua ibu yang digelar di tanah. Selanjutnya, ibu berjalan tertatih-tatih dengan perutnya makin buncit membawa beban tanah untuk menimbun rumah. Sebetulnya aku ingin libur sekolah beberapa hari agar bisa menemani sekaligus membantu ibu. Tetapi ibu melarangku. Katanya: kamu harus sekolah, biar bisa seperti ayah.
***

Lalu rumah itu berdiri. Setengah permanen. Rumah kami pertama-tama sangat jelek. Serupa onggokan. Memang, sudah beratap, berlantai, berdinding, dan berpintu. Tapi atapnya belum dicat merah saga, sebagaimana rumah-rumah lain yang beratap seng. Lantainya bukan tegel atau keramik, tetapi cuma beton yang dipernis dengan air semen.

Terus dindingnya masih menyembulkan batu-bata merah, belum diplester sama sekali. Loteng alias plafonnya belum ada. Kalau siang, panas matahari langsung menusuk ubun-ubun. Kalau musim hujan, dinginnya tak ketulungan. Hanya pintunya yang bagus. "Mengapa rumah kita tidak sebagus rumah-rumah di dekat pasar?"

"Rumah kita terbuat dari keringat. Tidak sama dengan rumah-rumah dekat pasar, milik toke-toke dan pejabat kecamatan, yang dibuat dengan uang. Sabar saja, kalau waktu milik kita, Insya Allah, rumah kita lama-lama akan menjadi seperti rumah-rumah dekat pasar itu." Ayah benar. Pelan-pelan rumah kami menjadi bagus. Satu per satu didandani. Atapnya dicat merah saga.

Diplester. Mula-mula bagian depan yang diplester, kali lain kamar tamu, terus merembet sampai kamar ayah, ruang makan, dapur, sampai ke kamarku. Itu dilakukan masing-masing dalam interval waktu berbulan-bulan. Setelah itu diberi loteng atau plafon. Mula-mula loteng bagian kamar tamu, lalu kamar makan, terus kamar ayah, terus loteng dapur, terakhir loteng kamarku. Tidurku pun menjadi tidak panas lagi. Lalu dicat. Semua itu dilakukan satu per satu dengan jeda cukup lama, sampai ayah berhasil mengumpulkan butiran-butiran waktu secukupnya.

RUMAH kami dekat pantai. Kalau malam aku suka duduk di luar, menikmati suara debur ombak. Kadang- kadang bersama ibu sambil menunggu ayah pulang dari pasar. Kadang bersama kakek, ayah ibu. Kakek suka bercerita tentang dongeng-dongeng. Aku mendengarnya sampai larut malam. Aku memang biasa tidur malam.

Kata kakek, rumah kami dekat Malaysia. Dari pantai di belakang rumahku, ada sebuah jembatan menghubungkan kampung kami dengan Malaysia. Jembatan itu terbuat dari bambu. Karena itu, banyak orang kampung merantau ke Malaysia, tinggal dan beranak-pinak di sana. "Mengapa jembatan itu sudah tidak ada? Aku ingin sekali main sore-sore Malaysia," tanyaku suatu kali. Kakek segera menyela. "Jembatan itu masih ada. Tetapi tidak bisa dilihat oleh anak kecil. Makanya kamu cepat- cepat besar kalau ingin main soresore ke Malaysia. Kamu bisa bersepeda ke sana," ujarnya. "Mengapa jembatan bambu bisa untuk bersepeda?"

"Itulah hebatnya," tanggap kakek. Meski bambu, tetapi kalau kita berjalan di atasnya, serasa berjalan di jalan licin beraspal. Bahkan, ada beberapa mobil yang lewat sana." "Mengapa bisa?" Aku makin tidak mengerti.

Kakek tersenyum sebentar, lalu berujar. "Bisa saja. Sebab, jembatan itu dibuat oleh indatu kita. Orang-orang kita yang hidup beratus-ratus tahun lalu. Mereka membuatnya perlahan-lahan. Dengan semangat berkobar. Mereka menumpahkan seluruh cinta untuknya.

Mereka tidak dibayar. Tetapi mereka senang melakukannya. Mereka makan dari harta Tuhan. Kalau siang, mereka membangun jembatan Kalau malam, mereka memancing atau menjala ikan. Setiap pagi, banyak orang datang ke sana untuk membeli ikan-ikan hasil tangkapan mereka." "Termasuk kakek?" "Ya, termasuk kakek."

Kakek memang seorang pedagang ikan. Kakek bukan cuma menjual ikan di pasar. Juga berjualan sampai ke kecamatan lain dengan mengayuh sepeda kumbang. Sering sekali kakek pulang larut malam. Tertatih-tatih mengayuh sepeda yang tak ada lampunya itu. Kalau bulan tidak terang, kakek memakai lampu senter untuk penerang jalan. Kadang kakek membawa banyak ikan yang tersisa. Lalu misyik -panggilanku untuk nenek- mencuci ikan-ikan itu dan membelahnya, memberi garam dan dijemur untuk dijadikan ikan asin. Itu dilakukan malam itu juga, supaya ikanikan itu tidak keburu busuk. Sering mendapatkan kakek pulang malam, aku kerap bertanya: "Apakah kakek tidak takut hantu? Sebab, kata orang kalau malam banyak hantu."

Kakek tertawa terbahak-bahak mendengar mendengar pertanyaanku. Aku menjadi tak mengerti. Lalu ia menukas: "Hantu itu tak pernah ada. Jalanan aman-aman saja." "Benarkah?" Kakek mengangguk.

Sejak situasi di Aceh makin tidak menyenangkan, ayah dan ibu memutuskan tinggal di Jakarta. Kebetulan aku sudah beberapa tahun tinggal dan bekerja di kota ini. Bukan hanya ayah dan ibu, sebagian warga lain, yang punya sanakfamili di luar Aceh, juga ikut mengungsi.

Ingin menentramkan diri, katanya. Pemuda juga begitu, mereka banyak yang pergi merantau. Ada yang ke Medan, Batam, Jakarta, sampai Malaysia. Tetapi, sejak tinggal di kota ini, ayah kerap termenung. Pikirannya selalu tertuju pada rumah. Tak jarang ia marahmarah sendiri dan mengatakan ingin pulang saja ke kampung. Sering pula ayah menyalahkan ibu yang dulu terus mendorong agar mereka segera meninggalkan kampung karena tidak sanggup lagi menghadapi berbagai kejadian yang malang-melintang di depan mata.

Kalau sedang berdebat dengan ibu -sebab ibu lebih berprinsip lebih baik hidup tenang jauh dari kampung daripada hidup was-was dan ketakutan i kampung sendiri- ayah selalu mengatakan: "Kalau Tuhan mau mencabut nyawa kita, di mana saja bisa. Mengapa kita harus takut pada mati." Kalau sudah begitu, ibu tidak akan melayani, dan pergi ke belakang dan menangis, karena merasa terus dipersalahkan oleh ayah. Waktu-waktu yang paling sering terjadi keributan antara ayah dan ibu adalah menjelang habis masa kontrak rumah. Karena pada masa itu ayah harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membayar biaya kontrak selanjutnya. Meski punya uang pensiun -ayah pensiunan pegawai negeri golongan IIID- sekitar Rp 1 juta rupiah sebulan, ayah selalu kepayahan setiap akan membayar biaya kontrakan.

Bisa dipahami memang, agak berat hidup di kota ini dengan gaji satu juta rupiah sebulan. Tetapi kalau dipikirpikir, masih beruntung ayah mempunyai pendapatan. Itu ditambah lagi dengan usaha ibu sehari-hari membuat kue untuk ditaruh di warung dekat tempat tinggal. Tidak banyak pemasukan memang, tetapi untuk belanja ikan dan sayur setiap hari tercukupi. Tetapi bagi ayah, ibu selalu dianggap telah mengambil keputusan yang keliru: hijrah dari kampung. Karena itu, ayah merasa selalu harus mengeluarkan uang banyak untuk tempat tinggal dan biaya hidup. "Rumah orang kita perbaiki, rumah sendiri kita biarkan terlantar," kata ayah selalu. Maksud ayah, membayar sekian juta rupiah untuk biaya kontrakan dianggap memperbaiki rumah orang. Kalau itu digunakan untuk merawat rumah sendiri, betapa sudah bagusnya rumah itu. Bukan hanya ibu, aku sendiri kadang juga kena semprot dari ayah. Aku dianggap yang memprovokasi ibu agar hijrah dari kampung dulu. Aku memang beberapa kali mengirim surat kepada ibu agar mempertimbangkan -aku tidak menyuruh- untuk tinggal di Jakarta saja. Mulanya ibu agak ragu. Tetapi setelah mengetahui sebagian orang Aceh, yang punya sanak-famili di luar daerah, meninggalkan kampung, ibu jadi terpengaruh juga.

Jadilah ibu kemudian mendesak ayah agar segera berkemas. Ayah menjual sepeda motor kesayangannya, menurut ayah, dengan harga murah. Juga menjual televisi, kulkas, dan perangkat elektronik lain. Semua dengan harga "butuh uang". Kecuali rumah, ayah bersikeras tidak mau menjualnya. "Kalau kita jual, nanti saat Aceh aman dan kita pulang kampung, kita akan tinggal di mana?" tanya ayah. Ibu memang tidak menyuruh agar ayah menjual rumah, karena ibu juga berharap suatu saat bisa kembali pulang kampung dan menghabiskan masa tuanya di sana. Akulah yang menyurati agar ayah dan ibu menjual rumah, setelah mengetahui keputusan mereka untuk hijrah. Aku berpikir praktis saja, daripada rusak, mendingan diuangkan saja. Lagi pula, buat apa lagi ayah dan ibu pulang ke kampung, semua anakanaknya -aku dan seorang adikku- sudah tinggal dan bekerja di Jakarta. Mendingan mereka tinggal di Jakarta, bisa dekat dengan kami, juga cucu-cucunya, yakni anak-anakku. Tetapi aku tidak memaksa juga. Biarlah ayah dan ibu mengambil keputusannya sendiri.

"Apakah kamu pernah berpikir tentang rumah? Rumah kita di kampung," tanya ayah suatu sore, ketika aku baru saja tiba dari tempat kerja. Aku melihat mata ayah basah dan beberapa tetes air matanya meluncur ke pipinya yang mulai keriput. Baru sekali ini aku melihat ayah menangis. Biasanya kalau teringat rumah, ayah hanya marah-marah dan wajahnya menjadi bersemu merah.

Aku duduk di samping ayah, memandang butiran-butiran hujan yang mulai turun, di tempat tinggal ayah dan ibu, sebuah rumah sederhana yang dikontrak seharga lima juta rupiah setahun itu. Aku betul-betul tersentak dengan cara ayah bertanya, juga suasana hatinya yang terasa begitu galau dan sedih. Ada apa yang terjadi sebenarnya.

Tetapi aku hanya menarik napas dalam- dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ayah. Aku hanya bisa membayangkan dari jauh: sebuah rumah semi permanen, berkamar dua, dan beratap merah saga. Sepi dan sendiri. "Apakah ada kabar dari kampung?" tanyaku kemudian setelah lama terdiam. "Tidak," katanya sambil terisak, lalu mengusap air mata dengan ujung jarinya.

"Itulah masalahnya. Ayah khawatir terjadi apa-apa dengan rumah kita. Tadi malam ayah bermimpi rumah kita sudah roboh. Dan orang-orang satu per satu datang untuk mengambil papan dan kayu untuk dijadikan kayu bakar," kata ayah sangat pelan dengan isak yang tidak bisa ditahan. "Itu kan mimpi. Pada kenyataannya kan tidak."

"Mimpi itu ayah yakin sekali benar. Dan arti mimpi itu bisa banyak. Bisa saja rumah itu digunakan oleh orang lain untuk hal-hal yang tidak kita inginkan. Atau paling tidak rumah itu sudah bocor, kotor, dan mungkin kayu- kayunya mulai lapuk dan catnya sudah terkelupas. Padahal kamu tahu, betapa susahnya kita untuk punya rumah dulu. Kita dulu harus tahan lapar untuk membangunnya."

Sekali lagi aku menarik napas. Betul juga kata ayah. "Bagaimana kalau kita kirim surat kepada paman di kampung menanyakan kondisi rumah?" "Tidak. Ayah terpikir mau pulang sendiri ke Aceh ingin melihat rumah. Kasihan kalau rumah itu jadi rusak," suara ayah.

"Tetapi di kampung belum aman. Kita tunggu saja sampai kondisi benar-benar tenteram," aku memberi pengertian. "Sampai kapan?" Ayah bertanya dengan suara serak. Beberapa tetes air mata kembali meluncur ke pipinya. Aku menggigit bibir, tidak tahu harus berkata apa. "Seharusnya, masa-masa pensiun begini ayah jalani bersama ibumu di kampung sambil merawat rumah," tutur ayah dengan wajah yang makin basah.

Peradilan Rakyat


Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"

Sejuta Cerita Jogja

Raungan alarm sialan itu mengawali hariku. Balutan piyama tipis yang kukenakan adalah satu-satunya pelindung tubuhku dari dingin fajar. Aku terbangun, dan menyadari bahwa itu adalah fajar terakhirku di Bandung untuk lima hari ke depan. Sore itu, adalah hari yang kunantikan sejak ajakan sahabatku untuk berlibur.
Hari itu aku terlalu bersemangat, bahkan aku sudah mengepak seluruh barang-barangku, padahal aku tahu bahwa aku masih memerlukan peralatan mandiku di pagi hari. “Aku tidak peduli,” pikirku. Dan ketika alarm berbunyi untuk kedua kalinya, aku baru sadar bahwa tadi aku hanya menekan tombol snooze.
Sore itu, 16 mahasiswa memutuskan untuk meninggalkan semua pekerjaan mereka di kampus untuk sementara. Melarikan diri dari tugas-tugas mereka demi kesenangan pribadi kah? Aku sendiri berpikir demikian. Entah dengan mereka. Namun semangat berliburku lebih besar dari rasa bersalahku. Jadi tetap kuputuskan untuk pergi…
Tiba di depan Stasiun Bandung, itu adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sana sejak aku masih duduk di bangku SD. “Sesuatu di dalam sana akan membawaku ke tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya”, kataku dalam hati. Dan setelah delapan jam penuh penantian, hal berikutnya yang kusaksikan adalah gelap subuh di Jogja.
“Kota ini berseni.” Itulah kesan pertamaku. Bahkan ketika ia masih diselimuti gelap, seninya terlalu kuat untuk bisa disembunyikan. Bagiku, yang hampir seumur hidupnya dihabiskan di Jakarta, kota metropolitan, Jogja langsung mendapat tempat khusus di hatiku.
Menyenangkan rasanya melihat wajah teman-temanku yang masih penuh dengan keceriaan bahkan setelah delapan jam perjalanan yang melelahkan. Bagiku sendiri, udara Jogja yang sedang kuhirup saat itu menambahkan jiwa baru pada tubuhku yang sebenarnya sedang menangis meminta diistirahatkan. Jogja terlalu indah buatku untuk bisa mengedip sebentar saja. Dan itu tetap kurasakan hingga detik terakhirku di sana.
Aku menyukai segalanya tentang Jogja kecuali satu: PANAS-nya! Matahari di kota ini sanggup menghitamkan kulitku yang awalnya sudah coklat. Sebelum berangkat ke Jogja, aku sempat memotong pendek rambutku dan aku bersyukur telah melakukannya. Sama sekali tidak terbayang berjalan-jalan di kota ini dengan rambut panjangku yang dulu. Mungkin kepalaku lebih dulu mendidih sebelum kakiku keram berjalan.
Di setiap sisi kota menyimpan cerita. Aku kagum melihat hampir seluruh bangunan di kota ini memiliki nuansa yang sama. Bentuk kuncup bunga di setiap pagar batu menghiasi setiap sudut Jogja dengan caranya sendiri. Seumur hidupku aku selalu berharap sendiri bisa menyaksikan ayu-nya Jogja, dan saat itu aku tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan.
Jogja di malam hari bahkan beratus-ratus kali lebih indah. Lampu-lampu jalanan menyinari kota ini seakan menambah corak bagi kota yang awalnya sudah ‘nyeni’ ini. Ratusan becak dan delman memenuhi pinggir jalan Malioboro. Mereka menjual jasa mengantar para pendatang seperti kami mengelilingi Malioboro hingga Keraton dengan harga 200o perak. “Benar-benar kota seni” pikirku. Dan meskipun aku sudah ribuan kali merasakan naik becak, tapi keinginanku untuk mencoba naik becak di Jogja tetap saja besar.
16 pemuda-pemudi berjalan bersama di jalan itu, berfoto-foto ria tanpa peduli puluhan pasang mata sedang memandangi mereka dengan heran, haha… dan aku termasuk di dalamnya. Apa boleh buat, Jogja terlalu indah untuk hanya dilihat saja. Blitz-blitz kamera di sana-sini, berbagai pose dan ekspresi dipasang untuk menggambarkan perasaan mereka. Buatku, entah ekspresi apa yang bisa kugunakan untuk mengungkapkan kekagumanku.
Parangtritis dan semburat senja pantai selatan. Sungguh merupakan obat bagiku yang telah cukup penat merasakan terik Jogja. Habis kata-kataku untuk menggambarkan keindahannya. Gambaran pantai selatan selalu ada di bayanganku, dan setiap kali menutup mata, bayangan itu datang menghiburku. Rona Senja:
Tiba di kala Sang Surya menutup hari
Indahnya merah tak pernah seindah senja.
Setiap mata yang menyaksikannya tersihir, namun laut di bawahnya tetap menanti
Bola merah menyala…
menyentuh cakrawala
berbagi warna
lalu tenggelam bersama duka
Menyaksikan keindahan itu, aku tak henti-hentinya berkata, “Terima kasih, Tuhan, Kau ciptakan karya indah di bumi jogja ini.” Aku menjadi saksi saat laut menelan bola merah nan menawan itu. Gelap datang perlahan tapi pasti, membawa suasana baru bagi malam Jojga yang sebelumnya kukenal. Lalu aku sadar, itu bukan malam Jogja, itu Malam Pantai Selatan yang tak kalah indahnya dengan seni kota itu sendiri.
Oh, Jogja… hatiku sakit meninggalkanmu. Kau merayuku dan berbisik penuh arti tapi aku harus tetap pergi. Indahmu menyimpan sejuta cerita, andai aku dapat hidup cukup lama untuk menguaknya, akan kutulis cerita dibalik setiap corak dalam kainmu. 16 pasang mata yang menjadi saksi kemegahanmu, hanya sedikit bukti dari wajah aslimu. Kelak aku ‘kan kembali lagi dan termakan bisikanmu… lagi.

Pritha Khalida

Yaah, memang sudah berdebu. Sekali lagi kupandangi teralis yang memagari jendela kamarku. Aku jadi teringat reaksi suamiku semalam saat melihatnya.
“Bunda, besok ada acara enggak?” tanyanya lembut, yang segera kujawab dengan gelengan kepala.
“Ayah mau ngajak jalan-jalan kemana memang?” hatiku mendadak berbunga-bunga.
“Tolong sempatkan mengelap teralis, ya?” Ia berbicara, tepatnya memintaku dengan gayanya yang khas, lembut, datar namun tegas. Aku memonyongkan bibir,
“Kirain mau ngajak pergi…”
“Hmm, gini deh. Kalau besok enggak ada pekerjaan mendadak di kantor, kita makan sate kambing Pak Atam, mau?”
“Asyiiik! Betul, Yah? Mauuuu!!”
“Nah gitu dong, jangan manyun. Begini kan lebih cantik…” ujar suamiku sambil menarik hidungku.
Dan kini, aku sudah siap dengan sebuah lap dan cairan pembersih. Setiap senti teralis mulai kubersihkan sampai mengilap. Fiuhh, ternyata kacanya juga sudah lumayan kotor. Aku pun segera mengambil lap lainnya.
“Andra, udah mama bilang jangan main tanah terus! Kotor, tauu!!” dari balik kaca kulihat Mbak Anik – tetangga seberang – sedang menjawil tangan anaknya yang baru berumur empat tahun itu dan membawanya masuk. Teriakan Mbak Anik tak lama kemudian disusul oleh suara kecil nan nyaring,
“Tapi kan Anda mau bikin gedung, kayak papa.”
“Iya, tapi jangan pakai tanah! Kamu tau enggak kalau di tanah itu banyak cacing! Gimana nanti kalau termakan?”
“Tapi kan tanahnya enggak Anda makan.”
“Selain cacing, juga banyak bakteri dan virus!”
“Baktei dan viyus itu apa?”
“Hewan-hewan yang sangat keciiil sampai enggak kelihatan, tapi bisa menularkan penyakit sama kamu. Mau?”
Brak! Pintu rumah depan ditutup. Membuatku tersadar untuk kembali pada pekerjaanku semula. Tapi eh, ternyata sudah bersih. Hmm, kurasa inilah bukti bahwa perempuan memang memiliki kemampuan membagi perhatian, he he he!
Tercium aroma harum dari dapur. Ah, itu pasti dari sup ayam di dalam panci. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Sebentar lagi suamiku pulang. Aku bergegas mengambil handuk. Ya, aku selalu ingin tampil cantik setiap menyambutnya pulang kantor. Namun, baru saja aku menyalakan kran air untuk memenuhi kamar mandi,
“Jeng Fitra…” suara itu terdengar, disusul ketukan pintu yang tampak seperti orang terburu-buru. Mbak Anik! Ada apa, ya?
“Ya, mbak?” aku melihat wajahnya pucat.
“Punya Dettol?”
“Enggak. Untuk apa?”
“Ya bikin air bak jernih, dong! Masa buat diminum?”
“Emmh, saya enggak pakai tuh, Mbak.”
“Enggak pernah pakai?? Serius?? Waduuuh, jeng Fitra ini gimana, sih??”
Suara Mbak Anik terdengar panik seakan ucapanku barusan mengenai ‘tidak-pernah-pakai-dettol’ adalah sebuah kesalahan besar yang akan berakibat amat fatal bagi kesejahteraan umat.
“Tapi, bukannya air di kompleks kita ini sudah bening? Jadi saya pikir, enggak perlu.”
“Owalaahhh… Kuman dan bakteri itu mengancam di setiap sudut rumah lho, jeng! Kalau enggak hati-hati, kita bisa terkena berbagai wabah penyakit! Pasti jeng belum baca Koran hari ini. Puluhan balita terkena penyakit kulit karena sanitasi yang buruk! Waspada, jeng! Waspada!”
Aku hanya tersenyum. Enggan rasanya membela diri. Perkataan defensif kurasa hanya akan menggali segala bentuk fakta dan pemikiran yang lebih panjang dari wanita berambut ikal tersebut.
“Ah ya sudah, aku ke supermarket depan kompleks saja dulu. Tadinya kupikir jeng Fitra punya, jadi bisa kupinjam dulu untuk mandi sore ini.” Mbak Anik pun meninggalkanku dengan wajah kusut.
Malam harinya suamiku memenuhi janjinya. Ia mengajakku makan sate kambing Pak Atam, setelah sebelumnya menyingkap tirai dan memuji hasil kerjaku.
Kedai sate saat itu tampak tak terlalu penuh. Kami mendapatkan tempat yang bagus, di sebelah pojok dekat tangga. Aku sedikit bernostalgia. Dulu waktu masih kuliah (aku dan suamiku kuliah di universitas yang sama, namun beda jurusan), kami acapkali makan di sini dengan sistem ‘traktir gantian’, tergantung siapa yang baru dapat transfer uang saku atau gaji magang sana-sini.
“Jeng Fitraaa!” aku menoleh. Mbak Anik baru saja memasuki kedai.
“Sebentar ya, saya pesan dulu!” Ujar Mbak Anik. Seorang pelayan mengantarkan dua gelas teh hangat ke meja kami. Mas Dito-suami Mbak Anik dan Andro tampak sedang mencari tempat duduk yang kosong. Suamiku melambaikan tangan pada Mas Dito, menunjukkan bahwa meja di sebelah kami masih kosong. Pembicaraan khas bapak-bapak pun terdengar di telingaku.
Daripada diam, aku pun mencoba mengajak Andra mengobrol.
“Hai Andra, sudah kelas berapa sekarang?”
“Nol kecil, tante!”
“Woow! Sudah belajar apa saja di sekolah?”
“Belajar Iqra!” Andra tampak diam sesaat, lalu meneruskan omongannya, “Anda udah hafal surat Al Fatihah sama Al Ikhlas lho Tante Fita…” ucapnya cadel.
“Anak pintar!” pujiku sambil mengelus kepalanya yang ditumbuhi rambut ikal nan tebal seperti ibunya.
Sate pesanan kami tiba.
“Makan, Mas?” suamiku menawari Mas Dito.
Aku mengalihkan perhatian pada Mbak Anik, penasaran mengapa sudah selama ini ia belum bergabung juga dengan kami? Tampak Mbak Anik masih berdiri di samping pengipas sate. Entah apa yang ia bicarakan, namun kulihat pengipas sate itu sibuk memindahkan tempat pembakaran sate agak meminggir. Mbak Anik mengawasinya dengan seksama. Aku melambaikan tangan padanya sebelum memakan sate yang mengepul di hadapanku.
“Kok lama, mbak?” tanyaku saat Mbak Anik menghampiri keluarganya.
“Heran deh, Jeng… Kok tukang sate itu meletakkan pembakarannya menjorok ke jalan, ya?”
“Yaa, biar asapnya enggak memenuhi kedai.” Jawabku sekenanya.
“Iya siih, tapi coba bayangkan berapa banyak mobil dan motor yang lalu-lalang di jalan ini? Apa enggak takut kena polusi? Asap dari knalpot kendaraan bermotor itu kan terhisap saja sudah enggak baik, apalagi kalau menempel ke sate yang kita makan!”
Mbak Anik duduk, “Makanya tadi aku suruh aja pelayannya memajukan pembakaran ke samping kedai.
“Lho, apa enggak mengganggu toko di sebelahnya?”
“Ah di sebelahnya itu kan minimarket waralaba, tertutup pintu kaca dan ber-AC pula, jadi ya enggak apa-apa lah.” Ia menukas. Aku meneruskan makan.
“Minta kobokan enam, ya. Untuk cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan. Jangan lupa setiap kobokan diberi jeruk nipis.” Pinta Mbak Anik pada pelayan yang mengantarkan satenya.
“Itu jeruknya di meja, bu.” Tunjuknya dengan sopan.
“Aduuh, sampeyan itu gimana?? Yang itu sudah berserakan begitu, pasti ada yang bekas pakai orang lain. Saya mau yang baru. Ada, kan? Jangan lupa dicuci dulu yaa…” Mbak Anik mencecar pelayan bertubuh pendek di depannya, yang hanya bisa manggut-manggut.
“Dia memang begitu.” Jawabku ketika suamiku menanyakan perihal Mbak Anik tadi di kedai sate. Aku meneruskan membersihkan muka dengan susu pembersih.
“Oya? Repot amat?”
“Ih, ayah enggak tahu, ya? Tadi sore aja dia nyalahin bunda waktu mau minta dettol, sementara dia tahu kalau bunda enggak pakai produk itu. Bunda dikira enggak waspada sama kesehatan!”
“Lah dia sendiri, waspada kok minta?”
“Enggak ngerti. Lebay deh!”
“Hah?”
“Lebay! Berlebihan…”
“Akh, bunda ini bisa saja.” Katanya sambil menarik selimut hingga sebatas perutnya. Tak lama kemudian terdengar dengkur halusnya.
“Aduuuh, ini tukang sampah kemana, sih?? Percuma tiap bulan bayar iuran sampah kalau sampahnya menumpuk begini!”
Jam setengah tujuh pagi aku mendengar pekikan Mbak Anik dari depan rumah. Kulihat dari jendela, ia tampak berkacak pinggang dengan raut muka yang sudah ditekuk sepuluh. Beberapa ibu-ibu yang melewatinya tersenyum padanya. Ada yang asal lewat, ada pula yang menyempatkan untuk mendengarkan keluhan Mbak Anik. Tadinya aku sama sekali tak berminat untuk bergabung, seandainya saja si Apin-tukang sayur langgananku tidak meneriakkan dagangannya. Teringat bahwa hari ini mau masak capcay, maka aku pun segera keluar rumah. Pemuda belasan tahun itu sudah menghentikan gerobaknya di depan rumah.
“Jeng Fitra, lihat nih… Tukang sampah hari ini absen!”
“Sakit kali, Mbak. Pak Rusdi kan memang sudah tua.” Ucapku.
“Aduh, kalau memang sakit mbok ya profesional sama pekerjaan. Dilimpahkan ke orang lain, kek. Kalau begini kan merugikan kita-kita, warga kompleks sini. Iya nggak?”
Aku menumpuk wortel di atas kol dan sawi. Apin memasukkan satu persatu sayuran yang kubeli ke dalam plastik hitam. Kutatap Mbak Anik,
“Baru hari ini kan, Mbak? Tunggu saja sampai besok atau lusa. Kalau masih enggak datang, baru kita lapor sama RT.”
“Lusa? Kelamaan! Bisa-bisa kita keburu kena penyakit pes!”
“Bukannya penyakit pes itu disebarkan oleh tikus, Mbak?”
“Oh…eh…Yaa, apa lah namanya… Pokoknya pasti banyak penyakit yang akan timbul kalau sampah menggunung!” katanya dengan geram.
Hari minggu sore. Aku dan suamiku baru saja pulang dari berakhir pekan di rumah Mama. Sementara kusiapkan teh susu favoritnya, terdengar ketukan di pintu. Suamiku membukakannya.
“Assalamualaykum, Bu Fitra ada?”
“Alaikum salam. Eh Bu Tanti… Ada tuh di belakang. Silahkan duduk.”
“Ah nggak usah, Pak. Saya buru-buru, mau ke rumah sakit. Itu sudah ditunggu ibu-ibu. Saya kesini cuma mau ngajak Bu Fitra, barangkali mau ikut menjenguk Bu Anik.”
“Memang Mbak Anik sakit apa, Bu?” tanyaku sambil meletakkan teh susu di meja.
“Sekujur tubuhnya terbakar.”
“Haah?? Kenapa??” aku terkejut mendengarnya.
“Si Apin yang lihat. Katanya waktu dia lewat kemarin, Bu Anik lagi bakar sampah di depan rumahnya. Beberapa menit kemudian saat si Apin menjajakan dagangannya di RT sebelah, terdengar teriakan Bu Anik. Rupanya api membesar dengan cepat dan Bu Anik sepertinya enggak sempat menjauh dari tempat sampah.”
“Astaghfirullah…” aku menggumam. “Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar ya… Saya ikut! Eh, boleh kan, Yah?” aku menengok pada suamiku, yang menjawab dengan anggukan.
Di sebuah ruangan kelas dua rumah sakit Hasan Sadikin, kulihat Mbak Anik terbaring. Badannya yang sebelah kanan terbakar, tampak kulitnya mengelupas. Kontras sekali dengan kulit putih yang masih menyelimuti bagian kiri badannya.
Aku tersenyum padanya, juga pada Mas Dito yang tampaknya sudah melewatkan tidur malamnya demi menjagai istrinya.
“Jeng Fitra…” ucapnya lemah.
“Psst… Sudah enggak usah banyak bicara dulu, Mbak. Gimana keadaannya, Mas?”
“Dokter sudah memberinya salep dan obat-obatan lain.” Jawab Mas Dito. Sementara ibu-ibu silih berganti menghampiri Mbak Anik, aku menghampiri Andra yang tertidur di sofa di pojok kamar. Mas Dito membetulkan jaket yang menyelimutinya.
“Kok bisa sampai begitu, Mas?”
“Anik kurang sabar menunggu tukang sampah. Kemarin pagi saat saya masih tidur, Anik rupanya nekat membakar sendiri sampah di depan rumah. Tidak tahunya di tumpukan sampah itu ada botol cairan pembasmi nyamuk yang masih ada isinya. Begitu tersulut api, yaa meledak!” aku dan beberapa ibu yang menyimak keterangan Mas Dito mengangguk-angguk.
Jam besuk sudah habis. Kami berpamitan pada Mbak Anik. Saat tiba giliranku, aku mendekatinya dan menyentuh tangannya,
“Jeng… jangan!” suaranya parau.
“Eh, maaf… Sakit ya, Mbak?” Mbak Anik menggeleng. Aku keheranan dibuatnya.
“Salepnya masih basah. Habis ini langsung cuci tangan pakai sabun antiseptik ya. Nanti termakan…” senyum menghiasi bibirnya yang pucat.
Aku tersenyum. Ah Mbak Anik… Mbak Anik… Mrs. Clean yang satu ini memang selalu waspada

Honor

Syalala…
Perasaan Ica begitu gembira. Senyum lebar tidak lepas dari wajah manisnya. Senandung kecil berirama meluncur dari bibirnya. Lihat saja cara dia berjalan. Kadang berlari kecil, melompat, bahkan berputar putar. Rambut belakang yang dikuncir ekor kuda ikut melambai-lambai. Apa gerangan yang membuat Ica begitu bersemangat hari ini? Dan, benda apa yang dia lambai-lambaikan itu?
“Hore, aku dapat honor..!” Pekik Ica spontan. Ini teriakan yang ke enam kali sejak Ica meninggalkan kantor redaksi koran “Suara Yogya”. Untunglah jalanan sepi, jadi tidak ada yang menganggap Ica orang aneh. Kini amplop putih itu dia pandangi dengan takjub. Dan, Muah! Aduh, Ica! Sudah berapa kali kau kecup amplop berisi honor itu?
Berapa ya isi amplop ini? Ica mengetuk-etukkan jari telunjuk ke pelipisnya. Lalu, dia raba amplop putih itu. Tipis. Ah, meskipun tipis, bukan berarti isinya sedikit, kan? Ica meyakinkan dirinya sendiri. Siapa tahu uang di dalamnya dalam lembaran seratus ribu rupiah. Duh, ingin rasanya segera merobek pinggir amplop ini. Sreek! Tapi jangan, ah. Siapa tahu ada orang jahat mengintai di belakang. Hii, Ica jadi ngeri. Dia percepat ayunan kakinya.
Rumah berpagar batu kali sudah tampak di kejauhan. Itulah rumah kesayangan Ica.
***
Ini honor pertama yang diterima Ica. Pantaslah dia begitu bersemangat. Bukan sekali ini saja Ica mengirimkan cerpen. Sudah belasan kali. Tapi selalu gagal dimuat. Bukan Ica namanya kalau mudah patah semangat. Hampir setiap minggu Ica menghasilkan satu cerpen baru. Hebat ya?
Keberuntungan menghampiri Ica berawal ketika Mbak Lira mampir ke rumah. Mbak Lira adalah wartawan koran “Suara Yogya”. Ica sekeluarga sudah akrab dengannya. Kebetulan Mbak Lira adalah teman mama sewaktu masih kuliah.
“Ica masih rajin bikin cerpen, kan?” tanya Mbak Lira. “Tentu, Mbak. Ica masih tetap semangat walau belum satupun yang dimuat. Hehehe.” Ica berkelakar.
“Sst. Mbak Lira punya kabar gembira, nih.” Bisik Mbak Lira. “Mulai bulan depan, koran tempat Mbak bekerja, mau menyediakan halaman khusus untuk anak-anak.”
“Terus apa hubungannya dengan Ica, Mbak? Apa Ica mau diangkat jadi redaktur?” sahut Ica melucu.
“Aduh, Ica! Mbak serius.” Kata Mbak Lira sambil mencubit pipi Ica. “Mbak Lira pingin memberi kesempatan kepada Ica untuk memasukkan cerpen anak-anak. Yah, siapa tahu cerpen Ica cocok dengan pembaca koran Mbak.”.
“Asyik, dong. Berarti pasti dimuat, ya?”
“Ya, nggak dong, sayang. Redaksi yang nanti akan menilai. Tapi Mbak Lira akan membantu memilih cerpen Ica yang paling bagus. Ayo, bawa sini kumpulan cerpen Ica.” Selanjutnya Ica dan Mbak Lira asyik membolak-balik kumpulan cerpen Ica.
Satu bulan Ica menunggu. Dan syukurlah cerpen Ica betul-betul dimuat. Yeah!
***
Ica sekarang sudah berada di dalam kamarnya. Pintu kamar sudah tertutup rapat. Ica tidak ingin ada yang mengintip. Ica tengkurap di atas kasur. Ditimang-timangnya, amplop putih yang tadi dia terima dari kantor koran “Suara Yogya”. Hemm, berapa ya isinya? Apa sebanyak yang diterima papa tempo hari? Ya, tempo hari tulisan papa tentang Gunung Merapi dimuat di Kompas. Ica sempat melihat wesel yang diterima papa. Disana tertulis empat ratus ribu rupiah. Wow. Apakah amplop ini berisi uang empat ratus ribu? Ah, tidak mungkin. Bukankah tulisan papa lebih panjang dan dilengkapi foto-foto pula. Aha, bisa jadi amplop ini berisi uang tiga ratus ribu rupiah. Bukankah mama juga selalu menerima uang sebanyak itu bila cerpennya dimuat di majalah ibukota?
Kini tidak ada lagi alasan bagi Ica untuk menunda membuka amplop itu. Sreek! Sekali tarik, sisi amplop itu sudah terbuka. Ica merogoh isi amplop itu dengan tangan gemetar. Pelan-pelan ditariknya. Ada dua lembar uang kertas. Ditariknya terus. Kini uang sudah di tangan Ica. Ica memandangi uang itu tidak percaya. Ica kembali meraih amplop putih. Disobeknya lebar-lebar. Memang sudah kosong. Tidak ada uang yang tertinggal di dalamnya.
Ica mengangkat kedua lembar uang kertas miliknya. Keduanya berwarna hijau. Keduanya bertuliskan dua puluh ribu rupiah. Jadi honorku hanya empat puluh ribu rupiah? Oh! Mama, Ica tidak menyangka. Ica sedih. Ica kecewa. Jerit Ica dalam hati.
Tok-tok-tok. Pintu kamar diketuk tiga kali. Pasti Papa. Benar saja. Papa muncul dari balik pintu diikuti mama di belakangnya. Buru-buru Ica menyembunyikan amplop dan uang honor ke balik bantal. Ah, untung saja aku tadi tidak jadi menangis betulan, kata Ica dalam hati.
“Halo anak manis. Hari ini jadi mengambil honor?” Tanya mama lembut. Ica mengangguk dua kali. Ica berusaha tersenyum lebar. Tapi mama tahu kalau Ica menyembunyikan kesedihannya.
“Anak mama harus gembira, dong. Berapa pun honor yang Ica terima harus diterima dengan gembira. Anggaplah itu sebagai piala terindah. Medali emas paling berkilau atas keberhasilanmu membuat cerpen yang hebat!” Kata mama sambil mengelus kepala Ica. “Ica tahu berapa banyak honor yang diterima mama saat cerpen mama dimuat pertama kali?” Ica menggeleng cepat.
“Lima ribu rupiah.” Sahut Papa. “Tapi itu masih lebih bagus. Karangan papa yang pertama kali dimuat, tidak dibayar dengan uang tapi dengan dua buah buku tulis, sebatang pensil dan rautan.”Lanjut papa. Ica terbelalak tidak percaya. Kini Ica malah tertawa terbahak-bahak. Aduh, malang benar nasib papa dahulu.
“Ica tidak sedih lagi, Mam. Ica senang kok, cerpen Ica akhirnya ada yang dimuat.” Kata Ica sambil tertawa kecil.
“Stt. Suara apa itu?” Tiba-tiba papa berkata setengah berteriak. Ica dan mama buru-buru memasang telinga. Dog-dog-dog. Aha! Itu suara kentongan Pak Kasim, penjual mi rebus. Wajah papa, mama, dan Ica berbinar-binar. Selain sekeluarga hobi mengarang, makan mi rebus adalah hobi yang tak pernah mereka tinggalkan.
“Ica yang traktir ya. Kalau sekadar bayar tiga piring mi rebus, honor Ica masih cukup, kok.” Kata Ica sambil mengangkat kepala. Papa tertawa.
“Eit, Ica dapat ilham nih!” Pekik Ica mengagetkan mama dan papa. “Ica mau membuat cerpen tentang penjual mi rebus. Namanya Pak Kasim. Dia bekas pejuang kemerdekaan. Dia hidup sendirian, miskin, tak ada sanak saudara…”
“Akhirnya dia merantau ke Jakarta untuk mencari istrinya yang terpisah saat perang,” sahut mama bersemangat.
“Atau… sebetulnya dia adalah alien dari planet Venus yang menyamar..!” timpal papa. Ica tertawa keras sekali. Air matanya sampai keluar. Aduh, papa. Mana ada alien jualan mi rebus!

Cintamu Terlalu Muda

Cahaya rembulan menembus pohon-pohon randu di sekitar ladang. Suara jangkrik bersahutan merayakan kegembiraan malam yang terang.
"Dita, would you marry me...?" bisik Paijo di telinga Dita.
"Jo, kamu serius......?, atau kamu hanya kumbang yang hanya manis kala mengharapkan bunga", sergah Dita penuh tanda tanya.
" Aku serius Dita, aku akan segera melamarmu kalau engkau setuju untuk menjadi istriku..."
dan segera malam berlalu....................................
Dita kena grounded 1 bulan, rahasianya ketahuan sudah, dia pacaran dengan Paijo, anak pedagang kelontong tetangga RT-nya. Sehari2 hanya nangis saja....., bukan karena rindu Paijo tapi karena bosen di rumah.
"Assalamu alaykum......", bel berbunyi tepat pagi ke-27 Dita dikurung.
buru2 Dita lari mau membuka pintu, kesempatan untuk melihat orang luar selain dari ibu bapaknya, pikirnya.
"Masuk .....Dita...", teriak ayahnya.
Dita mendelik karena takut, dia kembali ke belakang....tapi diam2 mencuri dengar siapa tamu yang datang. Paijo dan orang tuanya datang untuk melamar Dita......
"Anak saya tidak akan saya serahkan kepada orang yang tidak bisa membahagiakannya, pergi.....!!!!!!" suara bapak Dita terdengar lantang.
Dita tahu pasti lamaran itu pasti ditolak, alasannya pasti karena Paijo tidak kaya lah, Paijo kurang berpendidikan lah, Paijo belum punya rumah sendiri, dan beribu alasan lain.
Malamnya Paijo mengurung diri di kamarnya, gelap....gelap....hanya gelap yang dirasakannya.
Menjelang subuh, Paijo sudah berkemas2, tekadnya sudah bulat, dia akan lari dari kampungnya, malu...malu sekali. Dia malu jadi orang miskin, malu jadi orang tak berpendidikan, malu hidup di kampungnya sendiri, kampung yang dulu sangat dicintainya.
"Saudara2, demi generasi mendatang yang lebih baik, korupsi, kolusi, dan koncoisme, harus dieliminasi dari negara kita tercinta ini" teriak seorang gadis cantik mengakhiri orasinya, mahasiswa-mahasiswa lain tampak puas atas orasinya.
Turun panggung, tangan gadis itu ditarik sama pemuda berambut gimbal dan diajak ke pinggir lapangan.
"Dita, ada yang mencarimu, katanya pacar kamu...!!!, cerocos si gimbal.
"Busyet dah, pacar gue.....gue gampar loe macem2...!!!" Dita merasa terusik atas ulah si gimbal.
"Yah, loe dibilangin gak percaya, tuh anaknya nungguin loe di pintu gerbang kampus."si gimbal jengkel sambil ngeloyor pergi.
Dita yang kepanasan habis orasi tambah jengkel saja, sudah jengkel sama pejabat2 Indonesia yang kerjanya cuma merusak bangsa, ditambah lagi ada yang ngaku2 jadi pacarnya dia, tanpa sepengetahuannya lagi, ketemu aja belum pernah pikirnya.
Sambil bersungut2 dia bergegas ke pintu gerbang kampus, kampus yang telah membuat dia lebih memahami derita rakyat dan derita kaum lemah, suatu hal yang tidak pernah dirasakannya dalam keluarganya yang berada.
"Heh, loe......., sapa loe ngaku2 jadi pacar gue, blon pernah nyungsep ke got loe...", Dita langsung nyerocos begitu ketemu cowok yang dimaksud si gimbal.
"Tenang Dita...", jawab cowok itu tenang.
"Tenang, tenang.......tenang nenek moyang loe..., kalo ngajak berantem jangan beraninya sama kaum hawa doang."Dita nyerocos lagi nggak berhenti.
"Dita yang manis..."cowok itu mulai bicara pelan dan halus, membuat Dita agak sungkan, apalagi dia dibilang manis, dia mulai mendengarkan.
"Hurry up, I am listening..." gertak Dita
"Kamu memang nggak berubah dari dulu, tapi kamu nggak akan pernah bisa galak denganku.."ucap cowok itu dengan penuh percaya diri.
Dita tambah penasaran, belagu amat cowok ini pikirnya.
"Heh, loe gak usah bertele2, apa maksud kedatanganmu..., cepet bilang sebelum aku kehilangan kesabaran..."
"Kamu inget temen mainmu waktu kecil yang punya garis kecil di atas bibir atasnya, yang sering nyuri mangga tetangga bersamamu...?."cowok itu mencoba meredakan kemarahan Dita dengan pertanyaan.
Dita berpikir keras, mencoba mengingat kembali masa lalu pahitnya yang berusaha dia kubur dalam2. Masa lalu dalam kediktatoran keluarga, suatu hal yang amat dia benci dan dia tentang habis2an saat ini bersama teman2 mahasiswa seluruh negeri.
"Kamu......, Kamu...., Paijo...!!!!!." Dita terbata2
Cowok itu mengangguk. Dita lemas lunglai, serasa terasa lagi seluruh syarafnya karena kaget.
Beberapa hari berlalu..............
"Dita, setelah kupikir matang, aku akan menyuntingmu, kalau dirimu bersedia menjadi pendamping hidupku...?," Paijo dengan hati2 memberanikan diri meminta Dita untuk menikah, walaupun dia takut kalau Dita sudah tidak mencintainya lagi. Dita mungkin berubah pikirnya, sudah jadi gadis metropolitan.
"Tapi Paijo, ortuku pasti gak setuju, kamu masih ingat kejadian waktu itu kan....?,"sanggah Dita dengan wajah sedih.
"Aku sadar hal itu, tapi yang akan berumah tangga itu kita, asal kita saling mencintai, kita akan bersama2 mewujudkan cita dan cinta kita yang telah kita impikan dulu.., kita nikah dengan wali hakim.."ujar Paijo sungguh2.
Dita linglung, dia harus memilih antara cinta dan orang tua, sebuah pilihan pahit, peribahasa "If there are two choices, choose the third one" tidak berlaku lagi sekarang. Pilihannya benar2 cuma dua, Paijo atau orang tua.
Setelah kusut semalam itu karena banyak pikiran, Dita akhirnya memutuskan memilih Paijo, pilihan yang pahit sebenarnya, tapi dia tak bisa mengingkari kalau dia masih mencintai Paijo, terbukti dia belum pernah sekalipun begitu sreg dengan cowok2 yang mengejarnya walaupun mereka ganteng dan kaya, setelah sekian lama pisah dengan Paijo.
Pernikahan dilangsungkan sederhana di masjid kampus, sangat sederhana, hanya dihadiri teman2 terdekat saja.
Setelah menikah, Paijo dan Dita tinggal di satu kontrakan, selain untuk mengirit ongkos, mereka berencana membeli rumah sederhana dari tabungan mereka selama ini.
Mereka sama sekali tak mau mengemis pada orang tua, hal yang tabu dalam pandangan mereka. Merepotkan mereka lagi setelah kerepotan2 mereka sejak mereka dilahirkan.
Paijo bekerja sebagai redaktur sebuah harian ibukota sebagai cerpenis dan pencipta puisi, sekaligus menyalurkan hobinya sejak kecil. Dengan uang seadanya, mereka mencoba bertahan hidup di ganasnya kehidupan ibu kota.
Setahun sudah berlalu.......
Dengan menghisap rokoknya dalam2, Paijo berpikir keras...belum satu puisipun terhasilkan dari sibuknya di depan komputer hari ini. Pikirannya kalut dan bingung, Dita hamil..., kontrakan sebentar lagi habis, musti diperpanjang, apalagi penerbitan puisinya tinggal lusa.
Dia memandang Dita yang ketiduran di sampingnya, wajah ayu tanpa dosa yang setia menemani perjalanan hidupnya. Dia tidak habis pikir kadang, anak konglomerat yang mau membagi hidup dengan orang kecil seperti dia.
Jarum jam berdentang 2 kali, dan satu puisipun terselesaikan. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi......Paijo tertidur..
Paijo terbangun, matahari dengan garang membelai mukanya yang kusut, jendela telah terbuka, dia mencium bau mie goreng kesukaannya, rupanya Dita telah masak. Tapi dia kaget setengah mati, komputernya telah mati, padahal dia belum menyimpannya di file.
"Dita..............!!!!!!!!"Paijo berteriak keras.....
"Ya.........!!!!" jawab lembut Dita dari belakang.
"Siapa yang mematikan komputer..?"Paijo berteriak keras, merah mukanya tanda marah.
"Saya, kan Mas Jo tidur malam tadi.." jawab Dita masih sibuk dengan masakannya.
"Kamu tahu, aku harus menyelesaikan puisi itu dan besok akan terbit, dan saya belum menyimpannya, kamu keterlaluan Dita, tidak tanya2 aku dulu", Paijo menuju ke belakang dengan bersungut2.
"Itu puisi untuk membayar kontrakan, untuk membayar makan, apa kamu nggak ngerti...?"
"Ya, tapi kan saya tidak tahu kalau belum disimpan Mas..."
"Tapi kamu kan harus tanya dulu..., kamu memang keras kepala...., sudah salah membantah terus.., kamu tidak pernah berubah Dita.." Paijo mulai kehilangan kontrol atas omongannya.
Dita mulai berubah air mukanya mendengar ucapan Paijo, air mata mulai meleleh di pipinya. Dita pergi ke kamar dan menguncinya. Paijo hanya bisa melenguh memandangi jalanan kota Jakarta yang sibuk dan penuh polusi. Dia duduk lagi di depan komputer, mengingat2 lagi apa yang ditulisnya tadi malam. Sejam berlalu......
Pintu kamar berderit...
"Ternyata orang tuaku benar, kau tidak bisa membahagiakan aku, kau hanya bermain dengan khayalanmu, bermain dengan puisi2mu, tidak ada gunanya lagi aku bersamamu, kau tidak pernah mengerti aku, aku tidak mau mati dalam filosofi2 dalam otakmu itu, aku mau pulang ke orangtuaku..., selamat tinggal Jo..!!!", dng membawa sebuah tas jinjing Dita segera melesat pergi.
Paijo melongo, bingung mau berbuat apa, rasanya tidak percaya, kata2 yang keras dan cepat, sedikitpun tak ada waktu menjawabnya...
Dita segera hilang ditelan tikungan jalan, hilang di antara2 bajaj dan mobil2, Paijo menggigil.........gadis cantik itu telah pergi, tak meninggalkan apapun.................................................................................. kecuali sesal.

Office Boy Paling Terkenal di Indonesia

Mamat, pesuruh di kantor kami dikenal suka omong gede, ngakunya kenal sama semua orang beken dinegeri ini.

Tingkahnya itu kadang-kadang ngeselin. Suatu waktu, boss-nya penasaran dan ingin membuktikan bualannya.

"Oke boss" kata si Mamat, "sebutin aja deh nama orangnya yang ane kagak kenal".

"Coba buktiin you kenal nggak sama si Meriem Bellina".

"Beres boss. 'Yuk kita ke pengadilan. Maklum si Meriem 'kan lagi ngegugat-cerai lakinya."

Di pengadilan, menunggu sebentar, nggak lama kemudian muncul Meriam diiringi pengacaranya.
Begitu lewat di depan si Mamat, langsung si Meriem negor:

"Eh, Mat ke mana aja udah lama nggak keliatan?", diiringi cium pipi kiri dan kanan ala selebritis.
"'Ntar kalo urusan udah selesai main ya kerumah".

Sejenak si boss terpana, tapi tak lama kemudian dia ngomong:

"Ah, saya masih belum yakin. 'kali kebetulan aja.
Ayo sekarang tunjukin kalo you kenal sama si Liem Sioe Liong". "Beres boss".

Esoknya mereka menunggu di lobby gedung BCA yg diagunin ke BPPN itu. Tak lama kemudian muncullah si taipan diiringi bodyguard-nya.

Melihat si Mamat, eh si taipan nyamperin:
"Haiyya, Mat. Tumben elu baru nongol. Owe udah lama nyariin elu. Kemana ajah? Yuk keatas dulu, kita ngopi sebentar".

"Wah, 'koh, ane lagi banyak urusan nih. Kamsia deh. Kapan-kapan ane pasti mampir lagi".
Si taipan nyautin: "Iya dah. Jangan lupa ya",
sambil tangannya menyisipkan sesuatu ke kantong si Mamat.

Beberapa saat si boss melongo menyaksikan semua adegan pembicaraan. Tapi si boss masih penasaran, katanya:

"Oke deh, saya udah hampir percaya semua yang saya saksikan. Tapi ini test yang terakhir. Coba buktiin kalo you kenal sama Gus Dur".

"Yakh boss, terang ane kenal, 'kan saben hari nongol di TV".

"Bukan itu maksudku, tapi kenalnya kenal beneran", sergah si boss.

"Beres deh boss, 'kan hari Minggu ada Gus Dur di Senayan. 'Ntar kita ke sana."

Hari Minggu sungguh luar biasa, ribuan massa sudah luber di Senayan.

"Wah, boss kalo gini caranya susah juga ya. Gimana caranya dia tau ane ada di sini.
Tapi... gini aja deh, boss. Boss tunggu aja di sini.
Boss liat aja nanti ane keluar di podium barengan ame Gus Dur. Ane kenal kok sama Banser-Banser yang tugas di podium."

Ditunggu-tunggu, setengah jam kemudian tepuk tangan bergemuruh nyambut Gus Dur keluar dari podium, dan keluar dengan digandeng si Mamat disebelahnya.

Di sebelah satunya jelas si Yenny, putrinya. Tak lama kemudian si Mamat balik mau nemuin boss-nya.
Kaget dia nemuin bossnya pingsan dikelilingi Petugas P3K, jangan- jangan serangan jantung.
Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, pelan-pelan dia ngomong ke
si bossnya:

"Boss, boss kenapa ente". Nggak lama si boss buka matanya, setengah berbisik "Nggak apa-apa.
Aku nggak apa-apa".

"Abis kenapa bisa kejadian begini?", tanya si Mamat.

"Tadi waktu you keluar bareng Gus Dur di podium, orang di sebelah saya ngomong:

"EH, SIAPA TUH YANG DIGANDENG SI MAMAT???