DILARANG MEROKOK RUANG BLOG INI BER AC

Menaati OrangTua Itu Indah

Dalam perspektif islam, kedudukan orang tua di hadapan sang anak sangat istimewa, dan oleh karena itu si anak harus menghormati menaatinya. Nilai penghormatan dan ketaatan (bakti) anak kepada orang tua bahkan lebih utama ketimbang berjihad di jalan Allah. Lebih jauh seperti apa Islam mengatur masalah ketaatan anak kepada orang tuanya ?

Anak harus kita didik untuk taat kepada orang tua. Yang demikian itu adalah yang urgen, karena hal tersebut merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Menarik, karena hal itu memerlukan seni dan ketrampilan sendiri.

Diantara amanah Allah yang kita pegang adalah karunia anak-anak. Anugerah itu bias membuat hidup kita lebih berbahagia, baik di dunia maupun di Akhirat. Tetapi, untuk itu ada tanggung jawab yang melekat, yaitu kita harus mendidiknya dengan baik.

Keberhasilan memdidik anak antara lain berindikasikan bahwa anak-anak itu taat kepada orang tuanya. Berikut ini sejumlah alas an mengapa anak harus taat kepada orang tuanya ;

Pertama agar anak menjadi Muslim yang baik. Tiap-tiap anak dilahirkan menurut fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Bukhari) artinya, ialah merupakan kewajiban dari orang tua untuk mendidik anaknya agar si anak tumbuh kembang menjadi pemeluk Islam yang teguh. Untuk itu, anak harus berprasangka baik terhadap orang tuanya dengan cara mentaatinya.

Dengan modal mentaati itu, orang tua bisa memenuhi suruhan Allah dan Rasul-Nya untuk menjadikan sang permata sebagai Muslim yang Istiqomah. Denga bekal ketaatan kepada orang tua, mudah baginya untuk membentengi anak (dan anggota keluarga yang lain) terhindar dari aZab neraka, kelak. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan, (QS. At-Thamrin 66 : 6).

Anak adalah aset, baik kita saat kita di dunia maupun setelahnya. Di dunia, anak bias menjadi perhiasan dunia. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia (QS Al-Kahfi 18 : 46). Bahkan, setelah orang tua wafat, anak bias mengalirkan amal shalih kepada orang tuanya. Bila mati anak adam, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang slalu mendo’akan orang tuanya, (HR. Bukhari, tirmidzi, dan abu dawud).

Ketiga, agar anak tidak berbalik arah menjadikan musuh dan menyengsarakan orang tuanya karena ulahnya yang tak sesuai peraturan Agama. Dan ketahuilah harta dan anak-anakmu itu hanya lah titipan dan coba’an. Dan sesungguhnya disisi Allah lah pahala yang besar (QS Al Anfal 8 : 28). Hai orang orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati hatilah terhadap mereka, dan jika kamu memaafkannya dan tidak memarahi, serta mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang. (QS At-Tahabuun 64 : 14 )

Dan di sekitar kita relatife mudah untuk menemukan contoh anak kita yang justru tak mendatangkan kebahagiaan bagi orang tua, tapi sebaliknya, orang tua turut menjadi sengsara karena ulah sang anak. Kasus yang mudah disebut semisal anak yang terlibat dengan pemakai narkoba, pergalulan bebas, atau tindak kriminal.

Secara umum anak di perintahkan taat kepada orang tuannya. Kewajiban taat kepada rang tua baik yang diperintahkan itu sesuatu yang wajib, sunnah atau pun mubah. Demikian pula bila orang tua melarang dari perbuatan yang haram, makruh ataupun sesuatu yang mubah, kita wajib mentaatinya. Lebih dari itu kita juga wajib mendahulukan berbakti kepada orang tua dari pada perbuatan wajib kifayah dan sunnah. Riwayat berikut ini bias dijadikan pegangan.

Seseorang datang kepada Nabi SAW, Ya Rasullullah, aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad ingin mencari pahala dari Allah. “kata Rasullullah SAW, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” orang itu menjawab, “keduanya masih hidup, “kata Rasullullah SAW, “apakah engkau ingin mencari pahala dari Allah?, orang tersebut menjawab, “benar, aku mencari pahala dari Allah”, lalu Rasullullah menasehati, “kembalilah kepada orang tuanmu dan berbuat baiklah kepada keduanya”. (HR. Muslim).

Jadi, anak wajib taat kepada orang tuannya jika dan hanya jika orang tuannya mengajak di jalan Allah. Tapi, jika sebaliknya yaitu untuk memaksiati Allah, maka gugurlah kewajiban anak untuk mentaati kepada orang tuannya.

Pentingnya Mengenal Allah – Ma’rifatullah

• Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya (QS 51:56) dan tidak tertipu oleh dunia .
• Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus difahami manusia (QS 6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi sebab jika difahami memberikan keyakinan mendalam. Memahami Ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang [6:122] .
• Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena:
a) Berhubungan dengan obyeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
b) Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan dan kemenangan.

Jalan untuk mengenal Allah

1. Lewat akal:
• Ayat Kauniyah / ayat Allah di alam ini:
- fenomena terjadinya alam (52:35)
- fenomena kehendak yang tinggi(67:3)
- fenomena kehidupan (24:45)
- fenomena petunjuk dan ilham (20:50)
- fenomena pengabulan doa (6:63)

• Ayat Qur’aniyah/ayat Allah di dalam Al-Qur’an:
- keindahan Al-Qur’ an (2:23)
- pemberitahuan tentang umat yang lampau [9:70]
- pemberitahuan tentang kejadian yang akan datang (30:1-3, 8:7, 24:55)

2. Lewat memahami Asma’ul Husna:
- Allah sebagai Al-Khaliq (40:62)
- Allah sebagai pemberi rizqi (35:3, 11:6)
- Allah sebagai pemilik (2:284)
- dll. (59:22-24)

Hal-hal yang menghalangi ma’rifatullah
• Kesombongan (QS 7:146; 25:21).
• Dzalim (QS 4:153) .
• Bersandar pada panca indera (QS 2:55) .
• Dusta (QS 7:176) .
• Membatalkan janji dengan Allah (QS 2:2&-27) .
• Berbuat kerusakan/Fasad .
• Lalai (QS 21:1-3) .
• Banyak berbuat ma’siyat .
• Ragu-ragu (QS 6:109-110)

Semua sifat diatas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati. Sebab kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka. (QS 2:6-7)

Referensi :
Said Hawwa, Allah Jalla Jalaluhu
Aqidah Seorang Muslim 1, Al-Ummah

Renungan

Mari kita sedikit renungkan diri kita dalam menjalani hidup ini…

1. Jika SMS masuk kita cepat-cepat baca dan membalasnya, tapi kenapa saat waktu sholat sudah tiba kita tidak cepat-cepat melaksanakannya?

2. Isi pulsa Rp 100.000 kita sanggup, tapi kenapa sadaqoh Rp 10.000 terasa berat sekali?

3. Bila pulsa habis susah payah kita tebus, tapi kenapa kita tidak mau bersusah payah untuk menebus dosa-dosa yang telah kita lakukan?

4. Saat kita mandi bermacam-macam lagu dinyanyikan, tetapi kenapa saat akan makan baca ”BISMILLAH” pun kita sering lupakan?

Semoga bisa menjadi bahan renungan di hati.



Ramadhan (Bulan Aktivitas )

Tiga puluh hari dimana kemuliaan menemani kita ada di Ramadan. Satu bulan suci yang akan mengantarkan kita untuk merasakan sentuhan kasih sayang Sang Maha Penyayang yang-barangkali-kita lupakan pada bulan-bulan yang lain.
Sebelas bulan dalam setahun kita sibuk mengejar kemewahan, superioritas, gelimang gemerlapnya dunia, dan tanpa kita sadari bertumpuk-tumpuk dosa dan kesalahan di pundak kita. Kita sudah biasa melupakan-Nya, mengkristalkan bongkahan-bongkahan batu dalam hati kita, mengobarkan api permusuhan terhadap siapa saja yang menghalangi langkah kita serta buta kepada yang di "bawah" dan di sekitar kita.

Maka, datangnya bulan yang mulia ini mengajak kita untuk merenungi kembali kesalahan-kesalahan kita, memperbaiki hubungan kita, baik vertikal maupun horisontal. Adapun cara kita memperbaiki hubungan kepada Allah adalah dengan kembali mengingat-Nya dengan kembali menjalankan perintahnya sehingga kita tetap pada jalan-Nya yang lurus.

Sedangkan cara kita untuk memperbaiki diri sendiri adalah dengan menyatukan lisan dan perbuatan yang disertai panggilan suci hati nurani. Iman bukan sekedar ucapan atau pun syiar-syiar, tapi iman hakiki adalah seperti yang disampaikan oleh Rasul saw, yaitu membenarkan dalam hati, dan mengejawantahkannya dalam amal perbuatan. Apabila berhasil memperoleh iman yang hakiki ini maka ketenangan hati, kebersihan jiwa akan kita peroleh. Di samping, tentunya, manisnya iman serta lezatnya taat dan beribadah kepada Sang Khalik. Bulan ini akan membantu kita membersihkan mata hati dan menjauhkan perilaku hipokrit. Allah tidak menjadikan bagi mukmin dalam dirinya kecuali satu hati.

Adapun cara kita untuk berbuat baik kepada manusia adalah dengan menebarkan kasih sayang, kelembutan, dan menjauhkan diri dari sifat dengki, membenci, dan menyambung hubungan yang terputus, baik dengan kerabat dekat, tetangga, dan seluruh sahabat. Akan lebih baiknya, apabila kita mampu memaafkan orang-orang yang memiliki kesalahan kepada kita sehingga Allah juga akan memaafkannya dan ridla terhadap perbuatannya.

Sudah sewajarnya, dalam keadaan puasa tubuh kita letih-terkuras untuk aktifitas sehari-hari semisal bekerja, menuntut ilmu, ibadah, dan lain-lain. Tapi, kita harus ingat walaupun tubuh kita letih, bekerja juga merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan tercatat sebagai amal ibadah. Bukankah Allah dan Rasul-Nya lebih mencintai tangan-tangan yang bekerja dan berkarya dari pada tangan-tangan yang malas dan berpangku tangan.

Karena itu, menjadikan Ramadan sebagai alasan untuk lamban bekerja akan menghilangkan pahala puasa bagi pekerja itu sendiri, ia tak akan memperoleh dari puasa selain lapar dan dahaga. Bahkan ia telah melakukan kesalahan ganda, yaitu kemunduran dalam beribadah dan bekerja. Terlebih lagi, jika ia bekerja untuk melayani masyarakat. Sebaik-baik pekerjaan adalah khidmat kepada umat. Ia lebih afdhol dibanding i'tikaf di dalam masjid selama bertahun-tahun. Allah menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan keuletan, peras keringat, dan banting tulang.

Nah, cara "tobat" di atas (yaitu memperbaiki segala amal perbuatan kita baik ke arah vertikal maupun horisontal), tertuang dan tersedia dalam kesempatan yang mulia ini. Tetapi, di sana ada syarat yang harus kita penuhi, yaitu bahwa segala perbuatan buruk yang telah dilakukan di masa lalu tak akan diulangi di masa mendatang. Kita harus berusaha untuk itu, berusaha untuk istiqamah. Terlebih lagi, tidak logis rasanya jika dengan berakhirnya bulan Ramadan maka kita mengulangi lagi perbuatan-perbuatan buruk yang telah kita lakukan sebelum bulan Ramadan. Kalau hal itu sampai terjadi, maka puasa, salat, zakat, serta kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan tak akan bermanfaat.

Jika Ramadan akan mengahapuskan dosa-dosa kita sebelumnya, tetapi ia tak akan menghapuskan dosa-dosa kita setelah ia usai. Jika kita mengulang kesalahan masa lalu, maka kita telah menipu diri sendiri, dan tak akan memperoleh apa-apa kecuali murka Sang Khalik dan malaikat malaikat-Nya. Hendaklah kita jadikan puasa Ramadan ini untuk menumbuhkan kebaikan-kebaikan dan menutup kejelekan-kejelekan, serta membangkitkan nurani untuk mendorongnya beramal dengan ikhlas, agar kita memperoleh ridla Tuhan dan surga-Nya. Barangsiapa telah merasakan manisnya taat dan iman serta taqarub kepada Tuhan, maka tak akan mungkin kembali kepada kerendahan maksiat dan kehinaan syahwat. Semoga Allah menjaga kita dari perbuatan-perbuatan tercela dan menganugerahkan kepada kita kebahagiaan dunia akhirat.

Jamuan Allah Untuk Orang Mukmin

Di saat manusia kembali kepada Tuhannya, di situlah ia akan bersilaturrahmi kepada penciptanya. Tuhan yang memberinya petunjuk dan yang memberinya alam kehidupan. Pertemuan antara pencipta dan yang dicipta ini, merupakan akhir dari perjalanan yang dilalui manusia. Layaknya tuan rumah, Allah menyediakan tamu-tamunya berbagai hidangan, tergantung kepada setiap individu-individu yang sampai kepadaNya. Pada mereka disediakan tempat-tempat khusus tergantung kepada jalur dan rute yang dilalui. Mereka yang beriman akan ditempatkan di tempat khusus yang namanya sorga dan mereka yang tidak beriman akan ditempatkan di ruang yang disebut neraka.
"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal soleh ke dalam sorga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka berhiaskan kalung-kalung dari emas dan mutiara, pakaian mereka terbuat dari sutera, mereka diantarkan dalam ruang yang penuh kata-kata baik dan indah dan mereka diantarkan kepada jalan yang terpuji" (QS. Haj : 23-24).

Sorga memang jamuan dari Allah, Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan. Hadiah ini dinisbatkan kepada tamu-tamu Allah yang beriman dan mereka yang senantiasa menjunjung tinggi etika mulia (ahlakul karimah). Yaitu mereka yang senantiasa melakukan kabajikan dan senantiasa memerangi kemaksiatan. Rasulullah pernah bersabda, "Kebanyakan yang menjadikan manusia masuk sorga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad).

Jamuan yang diberikan oleh Sang Pencipta tentu berbeda jauh dengan jamuan yang ada di dunia ini. Jamuan yang biasa kita berikan kepada tamu-tamu mungkin sebatas makanan, minuman dan hadiah-hadiah kecil dan perkara-perkara duniawi. Jamuan kita juga terbatas dengan waktu dan tempat, tergantung kepada situasi dan kondisi. Mungkin, ketika kita senang, jamuan yang kita hidangkan terkadang terkesan glamor dan berlebih-lebihan, namun kala kita sedang marah dan tertekan, jamuan yang kita sajikan begitu sederhana dan bahkan tidak segan kita tidak menyuguhkan apa-apa. Terkadang kita juga memberi jamuan kepada tamu-tamu hanya untuk gengsi-gengsian, memamerkan kekayaan kita dan demi tujuan tertentu kita.

Lain halnya jamuan yang dihidangkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang beriman dan beramal saleh. Jamuan ini begitu sempurna. Saking sempurnanya hingga sulit untuk digambarkan dan dicontohkan dalam kehidupan ini. Kata Rasulullah, "Sorga ibaratnya, tidak ada mata yang pernah melihatnya dan tidak ada telinga yang pernah mendengarnya, bahkan tidak sedetik pun bisa terbersit dalam hati manusia, dari sesuatu yang maha sempurna". Karena itulah kebahagiaan hakiki yang disuguhkan kepada hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh. Dan kebahagiaan yang paling tinggi yang disuguhkan Allah dalam sorga adalah berkesempatan bertemu langsung dengan Allah, "Tingkat sorga terendah adalah perumpamaan seseorang yang berkesempatan menikmati kampung halamannya, melihat istrinya, sanak saudaranya dengan penuh kebahagiaan selama seribu tahun. Dan tingkat tertinggi sorga adalah melihat Allah siang dan malam, "Muka-muka mereka pada hari itu berseri karena melihat Tuhan mereka" (H.R. Tirmizi).

Nabi Ibrahim as. bernah berpesan kepada Nabi Muhammad saw pada saat perjumpaan keduanya di malam Mi'raj, "Hai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu dan ceritakan kepada mereka bahwa sorga bertanahkan wangi-wangian, airnya terasa segar, dan tanaman-tanamannya adalah "subhanallah", 'Alhamdulillah" dan "la'ilaaha illallah".

Siapakah tamu-tamu yang berhak mendapat suguhan sorga ketika nanti bertemu Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an surah Ali Imran ayat 133-135 sebagai berikut:

1. Orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut Allah, dengan menjalankan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
2. Orang-orang yang menyedekahkan hartanya sesuai dengan anjuran agama, baik itu zakat, sedekah maupun infak, baik dalam keadaan sulit maupun mudah. Ketika mereka banyak rezeki tidak mencerminkan orang yang cinta harta, bahkan ketika mereka dalam kesulitan sama sekali tidak mencerminkan kepelitan.
3. Mereka yang bisa menahan amarah dan tidak berbuat aniaya.
4. Mereka yang pemaaf, dan yang demi kebaikan selalu memaafkan orang yang pernah menganiayanya dan memusuhinya.
5. Mereka yang ketika melakukan perbuatan tercela, segera ingat Allah dan meminta ampunanNya atas dosa-dosa yang dilakukannya.
6. Mereka yang tidak suka berlarut-larut dalam kesalahan dan perbuatan dosa.

Dalam surah Al-Mu'minun ayat 1-11 juga dijelaskan sifat-sifat penghuni sorga, sebagai berikut :

1. orang-orang yang beriman dengan rukun-rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, nabi-nabi Allah, hari akhir dan ketentuan dan keputusan Allah. Mereka beriman dengan lisan, hati dan perbuatan mereka.
2. Mereka yang mendirikan salat mereka dengan khusyu'
3. Mereka yang meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, dan yang memanfaatkan waktu mereka untuk tindakan-tindakan yang bermanfaat.
4. Mereka yang membayar zakat, baik zakat harta maupun zakat fitrah.
5. Mereka yang menjaga alat kelamin mereka dari perbuatan zina dan pelanggaran seksual yang dilarang agama.
6. Mereka yang yang senantiasa memenuhi amanah dan janji-janji mereka, dan
7. Mereka yang senantiasa menjaga salat-salat mereka.


Semoga kita termasuk orang-orang yang akan masuk sorga. Amin.

(Disarikan dari kitab "Al-durus al-Ramadlaniyah" dan "Min Kunuzil Islam", oleh Muhammad Niam/Editor DO)

Pintu Puasa (Ar - Rayyan)

Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat satu pintu yang dinamakan pintu 'al-Rayan' yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Ditanyakan (oleh pintu tersebut): 'Di manakah orang-orang yang berpuasa?' Maka mereka pun masuk dari pintu tersebut. Setelah semua orang yang berpuasa memasukinya, pintu itu pun ditutup dan tak akan ada lagi yang masuk melaluinya." (HR. Muslim, dari Sahl Ibn Sa'd).
Dalam hadis tersebut Nabi Saw menerangkan keutamaan puasa dan kedudukan orang-orang yang berpuasa di sisi Allah.

Atas keikhlasan dan kesabaran mereka dalam menjalankan ibadah puasa-dengan menahan lapar dan dahaga, mengendalikan hawa nafsu dengan sekuat tenaga, maka Allah mengistimewakan mereka dengan memasukkan mereka ke dalam surga melalui pintu khusus yang bernama "Al-Rayyan". Kata ini berasal dari bentuk infinitif al-ray yang berarti pengairan, segar, dan juga pemandangan yang indah. Nama ini sesuai dengan keadaan orang-orang puasa yang menahan dirinya dari makan dan minum. Dan dahaga inilah yang lebih dominan dirasakan oleh orang yang sedang berpuasa dibanding rasa lapar. Zain Ibnu al-Munir mengatakan: "Rasulullah mengatakan pintu al-Rayyan ada 'di dalam surga' bukan mengatakan 'bagi surga/pintu surga', agar orang-orang merasa bahwa dalam pintu tersebut terdapat kenikmatan dan kenyamanan surgawi (kenikmatan di dalam kenikmatan). Maka hal ini akan menambah keinginan dan kerinduan kepadanya."

Hadis di atas diriwayatkan juga oleh al-Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah, dari Sa' id Ibn 'Abdurrahman, dan yang lainnya. Dan dalam riwayat ini terdapat tambahan: "Barangsiapa yang memasukinya (memasuki pintu al-Rayyan), maka akan meminum darinya. Dan barangsiapa meminum darinya, maka tak akan dahaga selamanya". Hal itu merupakan penghormatan dari Allah, Sang Pemelihara Alam kepada orang-orang yang berpuasa. Juga merupakan balasan bagi mereka atas keikhlasan menjalankan ibadah. Telah dimaklumi bahwa Allah akan menanggung pahala orang-orang yang berpuasa, sebagaimana dalam sebuah hadis: "Puasa untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya."

Pahala dan balasan Allah bagi orang-orang yang berpuasa adalah penuh, besar, dan tiada terhitung. Ada pun masuknya orang-orang yang berpuasa melalui pintu al-Rayyan ini merupakan tambahan pahala dan penghormatan semata.

Benar, surga mempunyai banyak pintu, di antaranya pintu bagi orang-orang yang taat menjalankan salat, pintu bagi orang-orang yang giat berjihad, pintu bagi orang-orang yang ikhlas berpuasa-yaitu al-Rayyan sebagaimana telah kita bicarakan, dan di antaranya ada pintu khusus bagi orang-orang yang suka bersedekah.

Dari Abi Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa memberi nafkah isterinya di jalan Allah, maka akan dipanggil dari pintu surga, 'Wahai Hamba Allah! Ini adalah pintu kebaikan.' Barangsiapa termasuk ahli salat, maka akan dipanggil dari pintu al-Shalah. Barangsiapa termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu al-Jihad. Barangsiapa termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu al-Rayyan. Dan barangsiapa termasuk ahli sedekah, maka akan dipanggil dari pintu al-Shadaqah. Abu Bakar lantas berkata, 'Demi engkau dan ibuku (ummul mukminin), ya, Rasulullah! Apakah seseorang harus dipanggil dari pintu-pintu itu, dan adakah seseorang yang dipanggil dari pintu-pintu itu seluruhnya?' Rasulullah menjawab, 'Iya. Dan aku berharap semoga engkau termasuk dari mereka." (HR. al-Bukhari).


(Disunting dari al-Shiyâm fî 'l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar Hasyim. Penyunting dan alih bahasa: Yessi Afdiani NA. & Shocheh Ha.)