Tiga puluh hari dimana kemuliaan menemani kita ada di Ramadan. Satu bulan suci yang akan mengantarkan kita untuk merasakan sentuhan kasih sayang Sang Maha Penyayang yang-barangkali-kita lupakan pada bulan-bulan yang lain.
Sebelas bulan dalam setahun kita sibuk mengejar kemewahan, superioritas, gelimang gemerlapnya dunia, dan tanpa kita sadari bertumpuk-tumpuk dosa dan kesalahan di pundak kita. Kita sudah biasa melupakan-Nya, mengkristalkan bongkahan-bongkahan batu dalam hati kita, mengobarkan api permusuhan terhadap siapa saja yang menghalangi langkah kita serta buta kepada yang di "bawah" dan di sekitar kita.
Maka, datangnya bulan yang mulia ini mengajak kita untuk merenungi kembali kesalahan-kesalahan kita, memperbaiki hubungan kita, baik vertikal maupun horisontal. Adapun cara kita memperbaiki hubungan kepada Allah adalah dengan kembali mengingat-Nya dengan kembali menjalankan perintahnya sehingga kita tetap pada jalan-Nya yang lurus.
Sedangkan cara kita untuk memperbaiki diri sendiri adalah dengan menyatukan lisan dan perbuatan yang disertai panggilan suci hati nurani. Iman bukan sekedar ucapan atau pun syiar-syiar, tapi iman hakiki adalah seperti yang disampaikan oleh Rasul saw, yaitu membenarkan dalam hati, dan mengejawantahkannya dalam amal perbuatan. Apabila berhasil memperoleh iman yang hakiki ini maka ketenangan hati, kebersihan jiwa akan kita peroleh. Di samping, tentunya, manisnya iman serta lezatnya taat dan beribadah kepada Sang Khalik. Bulan ini akan membantu kita membersihkan mata hati dan menjauhkan perilaku hipokrit. Allah tidak menjadikan bagi mukmin dalam dirinya kecuali satu hati.
Adapun cara kita untuk berbuat baik kepada manusia adalah dengan menebarkan kasih sayang, kelembutan, dan menjauhkan diri dari sifat dengki, membenci, dan menyambung hubungan yang terputus, baik dengan kerabat dekat, tetangga, dan seluruh sahabat. Akan lebih baiknya, apabila kita mampu memaafkan orang-orang yang memiliki kesalahan kepada kita sehingga Allah juga akan memaafkannya dan ridla terhadap perbuatannya.
Sudah sewajarnya, dalam keadaan puasa tubuh kita letih-terkuras untuk aktifitas sehari-hari semisal bekerja, menuntut ilmu, ibadah, dan lain-lain. Tapi, kita harus ingat walaupun tubuh kita letih, bekerja juga merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan tercatat sebagai amal ibadah. Bukankah Allah dan Rasul-Nya lebih mencintai tangan-tangan yang bekerja dan berkarya dari pada tangan-tangan yang malas dan berpangku tangan.
Karena itu, menjadikan Ramadan sebagai alasan untuk lamban bekerja akan menghilangkan pahala puasa bagi pekerja itu sendiri, ia tak akan memperoleh dari puasa selain lapar dan dahaga. Bahkan ia telah melakukan kesalahan ganda, yaitu kemunduran dalam beribadah dan bekerja. Terlebih lagi, jika ia bekerja untuk melayani masyarakat. Sebaik-baik pekerjaan adalah khidmat kepada umat. Ia lebih afdhol dibanding i'tikaf di dalam masjid selama bertahun-tahun. Allah menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan keuletan, peras keringat, dan banting tulang.
Nah, cara "tobat" di atas (yaitu memperbaiki segala amal perbuatan kita baik ke arah vertikal maupun horisontal), tertuang dan tersedia dalam kesempatan yang mulia ini. Tetapi, di sana ada syarat yang harus kita penuhi, yaitu bahwa segala perbuatan buruk yang telah dilakukan di masa lalu tak akan diulangi di masa mendatang. Kita harus berusaha untuk itu, berusaha untuk istiqamah. Terlebih lagi, tidak logis rasanya jika dengan berakhirnya bulan Ramadan maka kita mengulangi lagi perbuatan-perbuatan buruk yang telah kita lakukan sebelum bulan Ramadan. Kalau hal itu sampai terjadi, maka puasa, salat, zakat, serta kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan tak akan bermanfaat.
Jika Ramadan akan mengahapuskan dosa-dosa kita sebelumnya, tetapi ia tak akan menghapuskan dosa-dosa kita setelah ia usai. Jika kita mengulang kesalahan masa lalu, maka kita telah menipu diri sendiri, dan tak akan memperoleh apa-apa kecuali murka Sang Khalik dan malaikat malaikat-Nya. Hendaklah kita jadikan puasa Ramadan ini untuk menumbuhkan kebaikan-kebaikan dan menutup kejelekan-kejelekan, serta membangkitkan nurani untuk mendorongnya beramal dengan ikhlas, agar kita memperoleh ridla Tuhan dan surga-Nya. Barangsiapa telah merasakan manisnya taat dan iman serta taqarub kepada Tuhan, maka tak akan mungkin kembali kepada kerendahan maksiat dan kehinaan syahwat. Semoga Allah menjaga kita dari perbuatan-perbuatan tercela dan menganugerahkan kepada kita kebahagiaan dunia akhirat.
Ramadhan (Bulan Aktivitas )
Comments: (0)
Jamuan Allah Untuk Orang Mukmin
Di saat manusia kembali kepada Tuhannya, di situlah ia akan bersilaturrahmi kepada penciptanya. Tuhan yang memberinya petunjuk dan yang memberinya alam kehidupan. Pertemuan antara pencipta dan yang dicipta ini, merupakan akhir dari perjalanan yang dilalui manusia. Layaknya tuan rumah, Allah menyediakan tamu-tamunya berbagai hidangan, tergantung kepada setiap individu-individu yang sampai kepadaNya. Pada mereka disediakan tempat-tempat khusus tergantung kepada jalur dan rute yang dilalui. Mereka yang beriman akan ditempatkan di tempat khusus yang namanya sorga dan mereka yang tidak beriman akan ditempatkan di ruang yang disebut neraka.
"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal soleh ke dalam sorga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka berhiaskan kalung-kalung dari emas dan mutiara, pakaian mereka terbuat dari sutera, mereka diantarkan dalam ruang yang penuh kata-kata baik dan indah dan mereka diantarkan kepada jalan yang terpuji" (QS. Haj : 23-24).
Sorga memang jamuan dari Allah, Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan. Hadiah ini dinisbatkan kepada tamu-tamu Allah yang beriman dan mereka yang senantiasa menjunjung tinggi etika mulia (ahlakul karimah). Yaitu mereka yang senantiasa melakukan kabajikan dan senantiasa memerangi kemaksiatan. Rasulullah pernah bersabda, "Kebanyakan yang menjadikan manusia masuk sorga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad).
Jamuan yang diberikan oleh Sang Pencipta tentu berbeda jauh dengan jamuan yang ada di dunia ini. Jamuan yang biasa kita berikan kepada tamu-tamu mungkin sebatas makanan, minuman dan hadiah-hadiah kecil dan perkara-perkara duniawi. Jamuan kita juga terbatas dengan waktu dan tempat, tergantung kepada situasi dan kondisi. Mungkin, ketika kita senang, jamuan yang kita hidangkan terkadang terkesan glamor dan berlebih-lebihan, namun kala kita sedang marah dan tertekan, jamuan yang kita sajikan begitu sederhana dan bahkan tidak segan kita tidak menyuguhkan apa-apa. Terkadang kita juga memberi jamuan kepada tamu-tamu hanya untuk gengsi-gengsian, memamerkan kekayaan kita dan demi tujuan tertentu kita.
Lain halnya jamuan yang dihidangkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang beriman dan beramal saleh. Jamuan ini begitu sempurna. Saking sempurnanya hingga sulit untuk digambarkan dan dicontohkan dalam kehidupan ini. Kata Rasulullah, "Sorga ibaratnya, tidak ada mata yang pernah melihatnya dan tidak ada telinga yang pernah mendengarnya, bahkan tidak sedetik pun bisa terbersit dalam hati manusia, dari sesuatu yang maha sempurna". Karena itulah kebahagiaan hakiki yang disuguhkan kepada hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh. Dan kebahagiaan yang paling tinggi yang disuguhkan Allah dalam sorga adalah berkesempatan bertemu langsung dengan Allah, "Tingkat sorga terendah adalah perumpamaan seseorang yang berkesempatan menikmati kampung halamannya, melihat istrinya, sanak saudaranya dengan penuh kebahagiaan selama seribu tahun. Dan tingkat tertinggi sorga adalah melihat Allah siang dan malam, "Muka-muka mereka pada hari itu berseri karena melihat Tuhan mereka" (H.R. Tirmizi).
Nabi Ibrahim as. bernah berpesan kepada Nabi Muhammad saw pada saat perjumpaan keduanya di malam Mi'raj, "Hai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu dan ceritakan kepada mereka bahwa sorga bertanahkan wangi-wangian, airnya terasa segar, dan tanaman-tanamannya adalah "subhanallah", 'Alhamdulillah" dan "la'ilaaha illallah".
Siapakah tamu-tamu yang berhak mendapat suguhan sorga ketika nanti bertemu Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an surah Ali Imran ayat 133-135 sebagai berikut:
1. Orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut Allah, dengan menjalankan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
2. Orang-orang yang menyedekahkan hartanya sesuai dengan anjuran agama, baik itu zakat, sedekah maupun infak, baik dalam keadaan sulit maupun mudah. Ketika mereka banyak rezeki tidak mencerminkan orang yang cinta harta, bahkan ketika mereka dalam kesulitan sama sekali tidak mencerminkan kepelitan.
3. Mereka yang bisa menahan amarah dan tidak berbuat aniaya.
4. Mereka yang pemaaf, dan yang demi kebaikan selalu memaafkan orang yang pernah menganiayanya dan memusuhinya.
5. Mereka yang ketika melakukan perbuatan tercela, segera ingat Allah dan meminta ampunanNya atas dosa-dosa yang dilakukannya.
6. Mereka yang tidak suka berlarut-larut dalam kesalahan dan perbuatan dosa.
Dalam surah Al-Mu'minun ayat 1-11 juga dijelaskan sifat-sifat penghuni sorga, sebagai berikut :
1. orang-orang yang beriman dengan rukun-rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, nabi-nabi Allah, hari akhir dan ketentuan dan keputusan Allah. Mereka beriman dengan lisan, hati dan perbuatan mereka.
2. Mereka yang mendirikan salat mereka dengan khusyu'
3. Mereka yang meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, dan yang memanfaatkan waktu mereka untuk tindakan-tindakan yang bermanfaat.
4. Mereka yang membayar zakat, baik zakat harta maupun zakat fitrah.
5. Mereka yang menjaga alat kelamin mereka dari perbuatan zina dan pelanggaran seksual yang dilarang agama.
6. Mereka yang yang senantiasa memenuhi amanah dan janji-janji mereka, dan
7. Mereka yang senantiasa menjaga salat-salat mereka.
Semoga kita termasuk orang-orang yang akan masuk sorga. Amin.
(Disarikan dari kitab "Al-durus al-Ramadlaniyah" dan "Min Kunuzil Islam", oleh Muhammad Niam/Editor DO)
"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal soleh ke dalam sorga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka berhiaskan kalung-kalung dari emas dan mutiara, pakaian mereka terbuat dari sutera, mereka diantarkan dalam ruang yang penuh kata-kata baik dan indah dan mereka diantarkan kepada jalan yang terpuji" (QS. Haj : 23-24).
Sorga memang jamuan dari Allah, Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan. Hadiah ini dinisbatkan kepada tamu-tamu Allah yang beriman dan mereka yang senantiasa menjunjung tinggi etika mulia (ahlakul karimah). Yaitu mereka yang senantiasa melakukan kabajikan dan senantiasa memerangi kemaksiatan. Rasulullah pernah bersabda, "Kebanyakan yang menjadikan manusia masuk sorga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad).
Jamuan yang diberikan oleh Sang Pencipta tentu berbeda jauh dengan jamuan yang ada di dunia ini. Jamuan yang biasa kita berikan kepada tamu-tamu mungkin sebatas makanan, minuman dan hadiah-hadiah kecil dan perkara-perkara duniawi. Jamuan kita juga terbatas dengan waktu dan tempat, tergantung kepada situasi dan kondisi. Mungkin, ketika kita senang, jamuan yang kita hidangkan terkadang terkesan glamor dan berlebih-lebihan, namun kala kita sedang marah dan tertekan, jamuan yang kita sajikan begitu sederhana dan bahkan tidak segan kita tidak menyuguhkan apa-apa. Terkadang kita juga memberi jamuan kepada tamu-tamu hanya untuk gengsi-gengsian, memamerkan kekayaan kita dan demi tujuan tertentu kita.
Lain halnya jamuan yang dihidangkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang beriman dan beramal saleh. Jamuan ini begitu sempurna. Saking sempurnanya hingga sulit untuk digambarkan dan dicontohkan dalam kehidupan ini. Kata Rasulullah, "Sorga ibaratnya, tidak ada mata yang pernah melihatnya dan tidak ada telinga yang pernah mendengarnya, bahkan tidak sedetik pun bisa terbersit dalam hati manusia, dari sesuatu yang maha sempurna". Karena itulah kebahagiaan hakiki yang disuguhkan kepada hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh. Dan kebahagiaan yang paling tinggi yang disuguhkan Allah dalam sorga adalah berkesempatan bertemu langsung dengan Allah, "Tingkat sorga terendah adalah perumpamaan seseorang yang berkesempatan menikmati kampung halamannya, melihat istrinya, sanak saudaranya dengan penuh kebahagiaan selama seribu tahun. Dan tingkat tertinggi sorga adalah melihat Allah siang dan malam, "Muka-muka mereka pada hari itu berseri karena melihat Tuhan mereka" (H.R. Tirmizi).
Nabi Ibrahim as. bernah berpesan kepada Nabi Muhammad saw pada saat perjumpaan keduanya di malam Mi'raj, "Hai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu dan ceritakan kepada mereka bahwa sorga bertanahkan wangi-wangian, airnya terasa segar, dan tanaman-tanamannya adalah "subhanallah", 'Alhamdulillah" dan "la'ilaaha illallah".
Siapakah tamu-tamu yang berhak mendapat suguhan sorga ketika nanti bertemu Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an surah Ali Imran ayat 133-135 sebagai berikut:
1. Orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut Allah, dengan menjalankan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
2. Orang-orang yang menyedekahkan hartanya sesuai dengan anjuran agama, baik itu zakat, sedekah maupun infak, baik dalam keadaan sulit maupun mudah. Ketika mereka banyak rezeki tidak mencerminkan orang yang cinta harta, bahkan ketika mereka dalam kesulitan sama sekali tidak mencerminkan kepelitan.
3. Mereka yang bisa menahan amarah dan tidak berbuat aniaya.
4. Mereka yang pemaaf, dan yang demi kebaikan selalu memaafkan orang yang pernah menganiayanya dan memusuhinya.
5. Mereka yang ketika melakukan perbuatan tercela, segera ingat Allah dan meminta ampunanNya atas dosa-dosa yang dilakukannya.
6. Mereka yang tidak suka berlarut-larut dalam kesalahan dan perbuatan dosa.
Dalam surah Al-Mu'minun ayat 1-11 juga dijelaskan sifat-sifat penghuni sorga, sebagai berikut :
1. orang-orang yang beriman dengan rukun-rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, nabi-nabi Allah, hari akhir dan ketentuan dan keputusan Allah. Mereka beriman dengan lisan, hati dan perbuatan mereka.
2. Mereka yang mendirikan salat mereka dengan khusyu'
3. Mereka yang meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, dan yang memanfaatkan waktu mereka untuk tindakan-tindakan yang bermanfaat.
4. Mereka yang membayar zakat, baik zakat harta maupun zakat fitrah.
5. Mereka yang menjaga alat kelamin mereka dari perbuatan zina dan pelanggaran seksual yang dilarang agama.
6. Mereka yang yang senantiasa memenuhi amanah dan janji-janji mereka, dan
7. Mereka yang senantiasa menjaga salat-salat mereka.
Semoga kita termasuk orang-orang yang akan masuk sorga. Amin.
(Disarikan dari kitab "Al-durus al-Ramadlaniyah" dan "Min Kunuzil Islam", oleh Muhammad Niam/Editor DO)
Comments: (0)

